Hanura

Kenapa Gambarkan Soekarno sebagai Kolabolator?

Oleh: Rudi Hartono*

 MINGGU, 15 DESEMBER 2013 , 18:39:00 WIB

Kenapa Gambarkan Soekarno sebagai Kolabolator?

SOEKARNO DAN SJAHRIR/net

SEKARANG kita membahas periode fasisme Jepang. Saya kira, dari sajian Hanung Bramantyo di film Soekarno, kita ketemu satu pesan besar: Soekarno sang kolaborator dan Sjahrir sang ksatria yang konsisten. Benarkah demikian?
Yang harus diketahui oleh khalayak, pada bulan Juli 1942, terjadi pertemuan antara Soekarno dengan Hatta dan Sjahrir. Pertemuan itu berlangsung di Pasar Ikan. Pertemuan itu, kendati disertai perdebatan, menghasilkan keputusan taktik melawan Jepang: legal dan ilegal.

Soekarno dan Hatta ditugaskan menjalankan taktik legal, yang pura-pura bekerjasama dengan Jepang, dengan tujuan: mengurangi tekanan militer Jepang terhadap rakyat, gerakan rakyat, menyiapkan kader-kader pemimpin dan administratur untuk kelak Indonesia merdeka, dan tetap membakar semangat massa untuk kemerdekaan.

Sedangkan Sjahrir, yang mengaku kurang dikenal, menawarkan diri menjalankan taktik ilegal. Yakni: melakukan perlawanan bawah tanah terhadap fasisme Jepang. Karena sebuah kesepakatan, berarti Sjahrir mengamini taktik legal Soekarno dan Hatta.
Malahan, dalam buku otobiografinya, Untuk Negeriku: Menuju Gerbang Kemerdekaan, Bung Hatta mengungkapkan, "Sjahrir menyambungkan kata-kataku dengan mengatakan bahwa Soekarno dan aku barangkali tidak dapat mengelakkan kerjasama itu." Artinya, Sjahrir menyetujui taktik legal [pura-pura kerjasama] Soekarno-Hatta dengan Jepang itu.

Masalahnya, dalam film Soekarno, Sjahrir terus ditonjolkan sebagai oposisi terhadap taktik legal Soekarno-Hatta. Bahkan, Sjahrir mempengaruhi pemuda untuk mendiskreditkan Soekarno. Dalam film itu digambarkan, rumah Soekarno berkali-kali dilempar batu oleh pemuda disertai surat kaleng: penghianat, penjual bangsa, kolaborator, dan lain-lain.

Dengan menampilkan Sjahrir sebagai oposan taktik Soekarno Hatta -kendati ada kesepakatan di antara ketiganya soal taktik-, Hanung mendaulat Sjahrir sebagai pahlawan anti-fasis yang paling konsisten. Bagi Hanung, Sjahrir-lah yang paling serius anti-Jepang. Sementara Soekarno, yang bekerjasama dengan Jepang, merestui mobilisasi rakyat untuk 'serdadu kerja-paksa', jadi tentara (PETA/Heiho), dan lain-lain.

Masalah lainnya: seolah-olah Sjahrir-lah yang memonopoli gerakan bawah tanah melawan fasis Jepang. Hanung melupakan pejuang anti-fasis yang lain, terutama Amir Sjarifoeddin. Tidak sosok Amir dalam film Hanung itu. Bagi saya, menghilangkan sosok Amir dalam perlawanan bawah tanah anti-jepang, yang ada cuma Sjahrir, jelas merupakan tindakan 'penggelapan sejarah'.

Untuk diketahui, pada bulan Februari 1942, terjadi pertemuan antara Hatta dan Sjahrir dengan Amir di rumah Tjipto Mangkungkusumo di Sukabumi, Jawa Barat. Saat itu, Amir menawari Sjahri untuk terlibat gerakan bawah tanah anti-fasis Jepang. Namun,  sebagaimana ditulis Soe Hok Gie di Orang-Orang Di Persimpangan Jalan, Sjahrir tidak memberi jawaban pasti.

Yang tidak bisa dimungkiri, PKI di bawah pimpinan Pamudji paling aktif membentuk gerakan bawah tanah anti-Jepang. Salah satunya melalui grup yang dibentuk oleh Amir: Gerakan Rakyat anti-Fasis (GERAF). Selain itu, ada grup PKI lain bernama Djojobojo yang aktif di Bandung.

Tahun 1943, Amir dan tokoh-tokoh GERAF lainnya ditangkap oleh Jepang. Tak lama kemudian, Pamudji dan kawan-kawan juga tertangkap. Kesemuanya mengalami siksaan yang sangat keji. Pamudji dan kawan-kawannya gugur dalam siksaan Jepang. Sementara nyawa Amir berhasil diselamatkan Soekarno.

Selain itu, tidak semua aktivis pemuda berada di bawah pengaruh Sjahrir. Beberapa tokoh kiri seperti Aidit, Sidik Kertapati, Wikana, dan lain-lain, justru lebih dekat dengan Soekarno ketimbang Sjahrir. Bahkan, seperti diceritakan Sidik Kertapati dalam Seputar Proklamasi 17 Agustus 1945, Bung Karno dan Bung Hatta sering mengisi diskusi di grup-grup pemuda anti-fasis, khususnya di Angkatan Baru Indonesia.

Beberapa pemuda radikal seperti Aidit, Sakirman, Dr Muwardi, Djohar Nur, Suko, Asmara Hadi, Sidiki Kertapati, adalah aktivis Barisan Pelopor Istimewa. Untuk anda ketahui, organisasi ini adalah bentukan Soekarno sebagai sayap pemuda Djawa Hokokai.

Di sisi lain, pasca Proklamasi Kemerdekaan, ketika Sjahrir menjabat Perdana Menteri, ia justru menjalankan politik kompromistis. Sjahrir percaya pada jalan diplomasi untuk mendapat pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia. Sikap Sjahrir memicu oposisi luas di kalangan kaum radikal, terutama kelompok Tan Malaka. Tan Malaka sendiri mendengunkan slogan Kemerdekaan 100 persen.

Puncak penentangan terhadap politik Sjahrir terjadi tanggal 27 Juni 1946: Sjahrir diculik oleh kelompok Tan Malaka. Jadi, menggambarkan Sjahrir satu-satunya orang yang punya pengaruh di kalangan pemuda adalah juga penggelapan sejarah. Saya sendiri tidak mengetahui motif Hanung melakukan itu.

Sekali lagi: hanya Tuhan dan Sponsor yang tahu! (Bersambung)

* Penulis adalah aktivis Partai Rakyat Demokratik (PRD). Tulisan ini pertama kali dimuat di Berdikari Online. Pemuatan di Rakyat Merdeka Online atas izin penulis.


Komentar Pembaca
Rupiah Terpuruk, Utang Bertumpuk!

Rupiah Terpuruk, Utang Bertumpuk!

, 24 MEI 2018 , 17:00:00

Komunitas Tionghoa Kapok Dukung Jokowi
Maradona Dampingi Maduro

Maradona Dampingi Maduro

, 18 MEI 2018 , 02:14:00

Mencoblos Di Kedubes Venezuela

Mencoblos Di Kedubes Venezuela

, 20 MEI 2018 , 10:20:00

RR Bertemu Anwar Ibrahim

RR Bertemu Anwar Ibrahim

, 21 MEI 2018 , 00:45:00