Verified

Kemenristekdikti Dukung Riset Sesuai Regulasi Baru

Politik  SELASA, 06 DESEMBER 2016 , 19:15:00 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

RMOL. Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) secara konsisten terus memfasilitasi terselenggaranya riset di tanah air secara kondusif, melalui berbagai program. Hal ini mengingat inovasi merupakan salah satu pengukur daya saing bangsa yang dihasilkan dari riset.
Salah satunya adalah melalui Rapat Koordinasi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat dan Lembaga Penelitian dan Pengembangan yang dilaksanakan pada 6 hingga 7 Desember 2016 di Hotel Millenium, Jakarta.

Dalam kesempatan itu, Direktur Jenderal Riset dan Pengembangan Kemenristekdikti, Muhammad Dimyati mengatakan bahwa tahun ini adalah tahun untuk melakukan sosialisasi peraturan yang baru dalam mendukung kegiatan riset di Indonesia.

Kebutuhan untuk menyamakan persepsi dan mendalami serta memahami berbagai regulasi baru terkait penelitian di Indonesia mendorong pemangku kepentingan mulai dari Rektor PTN dan PTS, LPNK Ristek, Badan Litbang Kementerian dan Daerah, Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) perguruan tinggi negeri maupun swasta, Kopertis, dan stakeholders lainnya untuk mengikuti rakor ini.

Dimyati mengemukakan, saat ini peneliti Indonesia telah menghasilkan sekitar 9 ribu publikasi internasional, yang merupakan hasil kerja keras para peneliti dengan berbagai perbaikan regulasi yang selama ini didorong dan dibuat oleh pemerintah. Munculnya Peraturan Menteri Keuangan 106/2016 menekankan riset berbasis output, dibandingkan pertanggugjawaban administrasi.

"Artinya rekan-rekan akan lebih dibebaskan menghasilkan output dibandingkan mengurus berkas-berkas administratif yang membebankan dan meresahkan," tutur Dimyati.

Pada kesempatan tersebut, Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Mohammad Nasir menyebutkan jumlah publikasi internasional Indonesia dibandingkan negara-negara ASEAN masih jauh tertinggal. Malaysia berada di angka 23.000-an, Singapura 17.000-an, Thailand 13.000-an. Menristekdikti mengatakan Indonesia terbilang masih kurang karena potensi dosen berada di angka 250.000, guru besar sekitar 6.000, lektor kepala sekitar 31.000.

Jika dari jumlah guru besar dan lektor kepala yang totalnya sekitar 37.000 tersebut setengahnya saja melakukan publikasi, maka bisa mencapai angka 18.500. Sudah bisa menjadi juara di Asia Tenggara.

"Di awal Januari kita akan keluarkan regulasi nanti para guru besar wajib setiap tahun satu kali saja mengeluarkan publikasi. Para rektor kepala dua tahun sekali. Jadi tahun 2017 saya berharap bisa ada 18.000 publikasi. Jangan professor terlalu banyak kegiatan di luar tapi konsentrasi meneliti, begitu juga dengan para lektor," jelas Menristekdikti.[ian]
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
AHY Kandidat Terkuat Demokrat

AHY Kandidat Terkuat Demokrat

, 20 OKTOBER 2017 , 19:00:00

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

, 20 OKTOBER 2017 , 17:00:00

Sigit Diperiksa KPK

Sigit Diperiksa KPK

, 20 OKTOBER 2017 , 03:50:00

Salat Maghrib Berjamaah

Salat Maghrib Berjamaah

, 21 OKTOBER 2017 , 00:50:00

Tumpeng Ulang Tahun

Tumpeng Ulang Tahun

, 21 OKTOBER 2017 , 02:25:00