Berita Politik

Telkom Indonesia
Ramadhan

RR Komporin Jokowi

Bongkar Kasus BLBI

Politik  RABU, 03 MEI 2017 , 09:04:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

RR Komporin Jokowi

Rizal Ramli/Net

RMOL. Sesuai janji, KPK mulai memeriksa saksi-saksi kasus SKL BLBI. Kemarin, komisi antirasuah memeriksa Rizal Ramli (RR). Eks Menko Perekonomian ini ngomporin Presiden Jokowi agar menuntaskan kasus skandal BLBI.
Rizal tiba di KPK pukul 10.20 WIB. Mengenakan kemeja biru dengan dasi senada yang dibalut jas hitam, dia didampingi rekannya, Adhie Massardi. Ditanyai wartawan, Rizal mengaku diperiksa terkait kasus SKL BLBI. Dia berharap keterangannya membuka titik terang dalam kasus yang menyeret eks Kepala BPPN Syafruddin Arsyad Tumenggung ini sebagai tersangka. "Kami berharap kasus ini tidak tertukar guling dengan kasus yang lain. Seperti teman-teman ketahui, seperti e-KTP, kasus BLBI, ini pelakunya elite semua," ujar Rizal.

Dia juga meminta Jokowi mendukung penuh KPK menuntaskan kasus ini, seperti pada kasus e-KTP. Menurutnya, ini kesempatan atau momentum untuk menegakkan pemerintahan yang bersih. "Ini kesempatan pemerintahaan Pak Jokowi untuk all out, untuk kedua kasus ini karena beliau kan tidak terlibat," tegasnya. Rizal kemudian masuk ke dalam Gedung KPK.

Rizal tak lama diperiksa. Sekitar pukul 2 siang, dia sudah keluar. Menurutnya, pada pemeriksaan, KPK mengorek keterangan terkait prosedur proses pengambilan keputusan masalah-masalah yang ada di BPPN. Dia membeberkan pada penyidik, salah satu biang kerok dalam kasus ini adalah IMF. Ini berawal saat Indonesia terdampak krisis moneter. Kondisi Indonesia diperkirakan anjlok dari angka 6 persen menjadi 2-0 persen. Namun, kehadiran IMF justru memperburuk kondisi ekonomi Indonesia hingga minus 13 persen.

Sebelum Managing Director IMF Michael Camdemssus bertemu dengan Presiden Soeharto Oktober 1997, Rizal diundang oleh ekonom. Namun, dia menolak. "Kami satu-satunya yang menolak IMF datang ke Indonesia," tegas dia.

Begitu masuk Indonesia, IMF menyarankan tingkat bunga bank dari rata-rata 18 persen menjadi 80 persen, sehingga banyak perusahaan sehat terpaksa bangkrut. IMF juga memerintahkan pemerintah Indonesia menutup 16 bank kecil pada 1998.

Sayangnya, begitu bank-bank kecil ditutup, masyarakat malah tidak percaya dengan semua bank di Indonesia sehingga penarikan uang besar-besaran oleh nasabah dari bank swasta seperti BCA dan Danamon tak terhindarkan.

"Bank ini nyaris bangkrut. Akhirnya pemerintah terpaksa menyuntik BLBI senilai 80 miliar dolar AS, termasuk penyelamatan bank paling besar di dunia," bebernya.

Soal SKL yang akhirnya dikeluarkan Megawati pada 2002, Rizal menyatakan memang ada kejanggalan. KPK menyimpulkan ada yang belum bayar utang tapi sudah diberikan SKL. Tak hanya satu, ada beberapa obligor lain yang belum melunasi tapi langsung diberikan SKL.

Disinggung apakah Megawati bertanggungjawab dalam kasus ini, Rizal menjawab diplomatis. "Saya kira KPK masih dalam proses penyelidikan," tuturnya. Dia mengimbau kepada para obligor yang punya kewajiban kepada pemerintah Indonesia untuk memenuhi kewajibannya. Sebab, banyak dari mereka yang justru setelah krisis makin hebat dan makin makmur. "Kami juga minta kepada pemerintah negara tetangga terutama Singapura membantu proses agar obligor memenuhi kewajibannya," tegas Rizal.

Terakhir, dia kembali meminta Jokowi mendukung total KPK menuntaskan kasus ini. "Menurut saya ini momentum pemerintahan Jokowi untuk mendorong good governance. Kalau fokus antikorupsi, dukungan kepada Jokowi dan KPK akan sangat luar biasa," tutup Rizal sembari masuk ke dalam mobilnya. Selain Rizal, KPK juga memeriksa ekas Wakil Kepala BPPN, Eko Budiyanto.

Jubir KPK Febri Diansyah menyebut, pemanggilan Rizal untuk mendalami proses penerbitan SKL BLBI kepada Sjamsul Nursalim selaku pemegang saham pengendali Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI).

Pendalaman ini diperlukan untuk memperkuat adanya indikasi penyimpangan dalam penerbitan SKL itu.

Terpisah, eks Menkeu Fuad Bawazier memuji KPK mengusut kasus SKL BLBI. "Pimpinan KPK telah bergonta-ganti tapi baru pimpinan periode ini yang harus diacungi jempol karena berani buka skandal BLBI, khususnya atas nama Sjamsul Nursalim yang sudah lama jadi buron," puji Fuad.

Namun, dia mengingatkan KPK berhati-hati. Fuad menduga, para pelindung atau centeng-centeng BLBI kini sedang ketar-ketir dan kasak-kusuk menghajar KPK. Salah satunya, lewat hak angket di DPR. ***

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Said Aqil Cocok Gantikan Menteri Agama
Pesan SBY Untuk AHY

Pesan SBY Untuk AHY

, 24 JUNI 2017 , 10:00:00

Rencanakan Serang Masjidil Haram

Rencanakan Serang Masjidil Haram

, 24 JUNI 2017 , 17:41:00

Posko Lebaran Telkom

Posko Lebaran Telkom

, 24 JUNI 2017 , 01:22:00

Silaturahmi Jatipadang

Silaturahmi Jatipadang

, 24 JUNI 2017 , 04:50:00