Verified

Demokrasi Pancasila

Politik  MINGGU, 07 MEI 2017 , 22:45:00 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

<i>Demokrasi Pancasila</i>

Ilustrasi/Net

SENIOR kita, Denny JA, merilis ajakan merekonstruksi Demokrasi Pancasila "yang diperbaharui". Dia mengajak kita berpikir soal landasan filosofis bernegara. Sebuah ideal, a system, sebagai "the only game in town."
Baginya, pasca Ahok, ada sesuatu yang memprihatinkan. Sekali pun bagi saya, orang-orang yang berisik soal keberagaman sambil menuding-nuding kelompok Islam merupakan kelompok ahistoris. Mereka mengidap delusi.

Ahok kalah bukan karena SARA. Itu cuma alasan dan alibinya. Raison d'ĂȘtre Ahok tumbang adalah keliru stratak, kalkulasi dan metodologi.

Sejak 98, saya berpikir soal sistem terbaik bagi Indonesia. Semuanya anomali. Akhirnya, saya nyerah. Berhenti memikirkan soal beginian. Perdebatan paling mendasar adalah sistem vs manusia.

Menurut D. Edwards Deming, sistem lebih penting dari manusia. Angka perbandingannya 95:5. Kaum Marxis juga mementingkan sistem. Sedangkan penganut eksistensialis tidak peduli dengan sistem. Manusia jadi pusat segalanya. Bila manusianya baik, maka sistem apa pun akan menghasilkan end result yang baik. Begitu juga sebaliknya.

Saya tidak tau mana yang benar. Segalanya relatif. Sama-sama benar, tergantung situasi dan kondisi partikelir.

Indonesia penuh anomali. Sampe sekarang, saya mengira, adalah sebuah keajaiban Indonesia masih ada. Harry Tjan Silalahi pernah menulis "Indonesia negara bukan-bukan". Bukan negara agama, bukan sekuler, bukan demokrasi, juga bukan negara totaliter. Indonesia juga bukan negara sosialistik, tapi juga bukan kapitalis.

Hanya di Indonesia, empat peradaban hidup berdampingan secara bersamaan: tribal society, agraris, industri dan informasi teknologi.

Eropa hanya punya masyarakat industri dan IT. Botswana, Mozambique, Lesotho dan sebagainya belum masuk negara industri. Masih tribal dan agrarian society.

Selain itu, ada 1300-an suku dengan lingua franca berbeda mendiami 1700 pulau Indonesia. Di samping 186 kerajaan masih eksis sampai sekarang.

Diam-diam, berbagai faksi terlarang hidup berdampingan saat ini. Pengikut Sudisman, Tan Malakaist, Leninis, Maoist, Pecinta Che Guevara, Tan Ling Djiesme, Baperki, Stalinist, Rosa Luxemburg, anarco syndicalist, Trotskyist bergerak di samping marhaenis, wahabi, salafi, syiah, permusi, JI, LDII, kejawen, Jesuit, Freemasonry, Falun Dafa, animisme dinamisme dan ancient alien theorem.

Faktor geografis dan tipologi antroplogis itu masih dibikin rumit dengan adanya berbagai macam aliran pemikiran, agama, mazhab dan sub sekte. Jurang antara si miskin dan kaya mengerikan. Menurut Oxfam, empat orang terkaya memiliki harta setara dengan kekayaan 100 juta penduduk.

Jadi, tidak penting bentuk negara atau sistem apa yang mesti dianut. Masalah kesejahteraan itu esensinya.

Islam sebagai kelompok mayoritas mesti ditempatkan di posisi sentral. Tirani minoritas sesuatu yang absurd. Pluralitas merupakan fakta. Namun fairness tidak berarti porsi sama rata antara mayoritas dan minoritas. Itu sama saja mengistimewakan minoritas. Sebuah ketidakadilan bagi mayoritas.

Lieus Sungkharisma bilang, apalah arti sebuah nama. Serupa dengan William Shakepear yang berkata, "What's in a name? That which we call a rose by any other name would smell as sweet."

Lieus tidak sedang menjadi pujangga. Dia sedang bicara soal politik. Dia tidak keberatan bila Indonesia jadi negara Islam. Malah senang. Baginya, justru minoritas akan lebih terlindungi. Contohnya Malaysia. Setau saya, tidak pernah ada pogrom atau hatze anti cina di sana.

Namun definisi "negara Islam" pun multi-interpretasi. Lebih rumit dari communist state. Antara Soviet Union, PRC, North Korea dan Cuba saja sudah lain. Sekalipun sama-sama masuk communist camp. Benar kata Denny JA, hanya sedikit orang menginginkan negara islam dan liberal-sekuler. Paling-paling Gunawan Muhamad dan Salihara yang nggak keberatan dengan tarian telanjang. Mayoritas orang akan bilang, "That's insane."

Ada kesadaran supra di balik alam bawah sadar manusia Indonesia. Mereka tau, ekstrimitas kiri dan kanan tidak tepat buat Indonesia.

Kubu intoleran hanya ada dalam hayalan segelintir orang. Faktanya, di Indonesia tidak pernah ada perempuan minoritas disiram air dan dipukuli hanya karena dia pakai liontin salib. Justeru di Eropa dan Amerika kerap ditemukan perempuan muslim dibully dan dipukuli di pinggir jalan. Hanya karena dia memakai hijab.

Jadi, menurut saya, Demokrasi Pancasila versi "yang diperbaharui" adalah stop menuding orang lain sebagai kelompok intoleran dan radikal sambil memasang foto Garuda Pancasila sebagai Profile WA. Menuding-nuding orang lain seperti itu justru sebuah penghianatan Pancasila dan demokrasi itu sendiri. [***]

Penulis adalah aktivis Komunitas Tionghoa Anti Korupsi (KOMTAK) 
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Kang TB: Penjelasan Dubes AS Terlalu Datar
Hikmahnya, Panglima Gatot Cukup Diperhitungkan Sebagai Tokoh
Anies Tak Berjalan Manis

Anies Tak Berjalan Manis

SENIN, 23 OKTOBER 2017

Hari Santri Ternodai Iklan Kondom

Hari Santri Ternodai Iklan Kondom

SENIN, 23 OKTOBER 2017

Gatot Manggung Lagi

Gatot Manggung Lagi

SENIN, 23 OKTOBER 2017

Penolakan Imigrasi AS Mempermalukan Panglima Gatot
Oentoek Padoeka Jang Moelja

Oentoek Padoeka Jang Moelja

, 22 OKTOBER 2017 , 09:00:00

Kodam XVII/Cenderawasih Terima Piagam MURI

Kodam XVII/Cenderawasih Terima Piagam MURI

, 21 OKTOBER 2017 , 09:00:00

Salat Maghrib Berjamaah

Salat Maghrib Berjamaah

, 21 OKTOBER 2017 , 00:50:00

Kritisi Jokowi-JK

Kritisi Jokowi-JK

, 21 OKTOBER 2017 , 05:01:00

Tumpeng Ulang Tahun

Tumpeng Ulang Tahun

, 21 OKTOBER 2017 , 02:25:00