Berita Politik

Telkom Indonesia
Rita Widyasari

Saran Soekarno Untuk Muhammadiyah

Politik  RABU, 14 JUNI 2017 , 05:30:00 WIB

<i>Saran Soekarno Untuk Muhammadiyah</i>

Foto/Net

BULAN Juni ini, genap 47 tahun Soekarno wafat tahun 1970. Tak hanya itu, ia juga lahir 6 Juni 1901 dan menyampaikan gagasan tentang Pancasila 1 Juni 1945 dalam sidang BPUPKI. Selama ini, kita mengenal Soekarno sebagai Proklamator, Pahlawan Nasional dan juga Bapak Bangsa. Namun masih sedikit yang tahu bahwa Soekarno sesungguhnya aktifis Muhammadiyah.
​Ia tercatat pernah menjadi guru di Sekolah Muhammadiyah sekaligus menjadi ketua Departemen Pengajaran Muhammadiyah Daerah Bengkulu tahun 1939, yang mengantarkannya menikah dengan Fatmawati, murid dan juga putri Hasan Din, Konsul Muhammadiyah Bengkulu. Fatmawati kemudian menjadi ibu negara pertama yang menjahit bendera pusaka merah putih dan dikibarkan saat Proklamasi 17 Agustus 1945.

Soekarno jatuh hati pada Muhammadiyah yang berilian dengan ide modernisasi. Ia menjadi anggota Muhammadiyah tahun 1938. Hal itu sejalan dengan ikhtiar Soekarno untuk membuka tabir kemajuan peradaban di balik kata Islam dari tokoh-tokoh pembaruan Islam seperti Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani, Arabi Pasha, Ahmad Bey Agayeff, dan Mohammad Ali, yang menghiasi wawasan keislaman dan kemuhammadiyahannya.

Beberapa Saran untuk Muhammadiyah

Sebagai seorang pemikir, pejuang dan pemimpin bangsa, Soekarno banyak memberikan saran untuk kemajuan Muhammadiyah. Hal ini dilakukan sebagai sense of belongingdan kecintaanya pada Muhammadiyah. Saran tersebut adalah; Pertama, agar Muhammadiyah berdakwah di Penjara; "Jikalau Muhammadiyah menggulungkan lengan bajunya buat memenuhi panggilan Tuhan di dalam penjara ini, jikalau Muhammadiyah mengadakan dinas propaganda khusus di penjara, maka tidak boleh tidak, berkat dan pahala akan tersedia baginya dengan banyak-banyak dan murah-murah, moga-moga saya tulisan ini akan membawa hasil sekadarnya. Silahkan Muhammadiyah bergiat di lapangan ini." (Almanak Muhammadiyah 1357 H /1938-1939).

Dalam konteks sekarang, saran itu masih relevan dilaksanakan Muhammadiyah sebagai organisasi dakwah amar maruf nahi munkar. Apalagi banyak sekali penjara atau lembaga pemasyarakatan menjadi sarang kejahatan, seperti pengedaran narkoba, korupsi dan sebagainya.

Kedua, menghilangkan "tabir" pembatas antara laki-laki dan perempuan pada saat rapat-rapat Muhammadiyah. Tahun 1939 Soekarno memprotes dengan jalan meninggalkan rapat mengenai soal "tabir" yang menurutnya dianggap tidak sesuai dengan keadaan dan kemajuan zaman. Kritik ini masih relevan, karenabelum adanya kalangan perempuan dalam struktur kepengurusan Muhammadiyah dari pusat sampai ranting. Sehingga "tabir" itu masih mewarnai perjalanan Muhammadiyah yang telah berumur lebih dari satu abad.

Dalam wawancaranya dengan koresponden "Antara" di Bengkulen, ia mengatakan: "Saya masuk di kalangan Muhammadiyah, itu bukanlah berarti saya menyetujui semua hal yang ada di dalamnya. Juga dalam dunia Muhammadiyah ada terdapat elemen-elemen yang di dalam pandangan saya masih kolot sekali. Saya masuk ke Muhammadiyah karena saya ingin mengabdi kepada Islam. Pada azasnya Muhammadiyah adalah mengabdi kepada Islam. Tetapi tidak semua sepak terjangnya saya mufakati.

Ketiga, saat pembukaan Muktamar ke 33 tanggal 25-30 Juli 1956 di Palembang, ia meminta Muhammadiyah tetap menjadi pioner dalam pembaruan Islam: "...Oleh sebab itu janganlah dikira tugas pioner dalam Muhammadiyah kini telah berakhir. Apakah artinya masa 40 tahun itu dalam sejarah. Masih banyak tugas misi dan tugas Islam reform dari gerakan ini yang harus dikerjakan. Kembalilah kepada tugas pionir itu, tetap setialah kepada tugas tabligh, tugas pendidikan dan tugas kesosialan…" (Pedoman, 26 Juli 1956).

Keempat, namanya tidak dicoret sebagai anggota Muhammadiyah. Hal itu disampaikan saat Milad Muhammadiyah ke-45 di Jakarta 22 Nopember 1957. Ia mengatakan: "Sekali Muhammadiyah tetap Muhammadiyah. Kata-kata ini bukan untuk Muhammadiyah saja, tetapi juga untuk saya. Saya harap kalau dibaca lagi nama-nama anggauta Muhammadiyah yang 175.000 orang banyaknya, nama saya masih tercantum di dalamnya. Saya harap nama saya tidak dicoret dari daftar keanggautaan Muhammadiyah". (Antara, 23 Nopember 1957).

Kelima, supaya dimintai iuran pada saat menutup Muktamar setengah abad Muhammadiyah 25 November 1962 di Jakarta. "Memang benar, saudara-saudara, sampai sekarang masih anggota Muhammadiyah. Cuma anehnya, sejak saya menjadi Presiden Republik Indonesia, saya belum pernah ditagih kontribusi. Jadi saya minta agar supaya sejak sekarang ditagihlah kontribusi saya ini, malahan dengan bahasa asing "metterugwerkende kracht".

Permintaan tersebut, disamping berisi sebuah pengakuan tulus bahwa dirinya tetap masih Muhammadiyah, tetapi sekaligus bukti bahwa Muhammadiyah tidak memanfaatkan jabatan Soekarno sebagai Presiden untuk kepentingan organisasi. Inilah salah bukti kemandirian Muhammadiyah, yang sampai hari ini harus terus menerus dipertahankan.

Lima saran tersebut, patut untuk menjadi bahan renungan dan pertimbangan bagi persyarikatan Muhammadiyah. Apalagi disampaikan oleh pendiri bangsa yang sampai akhir hayatnya memiliki kecintaan yang tinggi atas Muhammadiyah. Menurut Cindy Adams dalam buku Soekarno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, Soekarno merupakan satu-satunya presiden sebuah negara di dunia yang menyatakan jika dirinya meninggal maka jenazahnya ditutupi dengan bendera Muhammadiyah, bukan dengan bendera negara.

Sejatinya Soekarno adalah seorang Muslim yang taat dan pemikir bagi Islam serta kader Muhammadiyah yang tangguh. Karena itu, kalau "tuduhan" bahwa Soekarno menganut paham komunis, tentu adalah sebuah kesesatan yang nyata. Apalagi gelar Pahlawan Nasional telah diberikan kepadanya. Hingga kemudian pada tanggal 3 Agustus 1965 Universitas Muhammadiyah Jakarta memberikan gelar Doktor Honoris Causa kepada Soekarno dalam bidang pemikiran Theosefi. Wallahua'lam. [***]

Faozan Amar
Penulis adalah Sekretaris Lembaga Dakwah Khusus PP Muhammadiyah dan Ketua PP Baitul Muslimin Indonesia

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Ridwan Kamil Lirik Bima Arya

Ridwan Kamil Lirik Bima Arya

, 22 AGUSTUS 2017 , 13:00:00

Korban Penyiksaan Novel Baswedan Mengadu Ke DPR
Kostrad Didik Bela Negara Mahasiswa Uniga

Kostrad Didik Bela Negara Mahasiswa Uniga

, 21 AGUSTUS 2017 , 22:39:00

Bantuan Pangan BNI

Bantuan Pangan BNI

, 20 AGUSTUS 2017 , 02:40:00

Lomba Dayung Kemerdekaan

Lomba Dayung Kemerdekaan

, 20 AGUSTUS 2017 , 17:25:00