Berita Politik

Telkom Indonesia
Rita Widyasari

HTI Itu Gerbongnya Gerakan Dakwah, Lokomotifnya Gerakan Politik

Politik  RABU, 14 JUNI 2017 , 14:48:00 WIB | LAPORAN: IHSAN DALIMUNTHE

HTI Itu Gerbongnya Gerakan Dakwah, Lokomotifnya Gerakan Politik

Diskusi Buku HTI/RMOL

RMOL. Penulis buku “Gerakan Politik HTI, Mampukah Menjadi Gerakan Dakwah?”, Sofiuddin mengatakan Hizbut Tahri Indonesia (HTI) jika dilihat dari gerbong-gerbongnya adalah gerakan dakwah, yakni melihat dari pergerakan pengajian-pengajian, pertemuan-pertemuannya.
Namun kata Sofiuddin materinya mengarah pada keinginan mendirikan khilafah di Indonesia. Bahkan dilihat dari lokomotifnya  gerakan HTI ternyata bermuatan gerakan politik.  

"Gerbongnya gerakan dakwah, lokomotifnya gerakan politik," kata Sofiuddin saat meluncurkan buku terbarunya di Islam Nusantara Center (INC), Selasa (13/6)

"Melihat pernyataan-pernyataan Ismail Yusanto (Jubir HTI) bahwa HTI adalah gerakan politik. Terbukti ketika ditanya para wartawan bahwa HTI itu sebentulnya mau dikatakan sebagai partai politik tapi belum mememenuhi satu dari 4 syarat, yakni Pengkaderan, Agregasi, Artikulasi, syarat keempat ini belum bisa terwujud, yaitu representasi. Makanya disebut partai politik, menurut mereka partai politik minus representasi," tambah santri Abah Hasyim Muzadi ini.

Dalam penjelasannya, Sofiuddin mengaku bahwa bukunya tidak hanya sekedar menyikapi fenomena rencana pembubaran HTI belakangan ini, tapi bermula dari tahun-tahun sebelumnya, mulai tahun 2007 di Malang. Ia terlibat dalam diskusi-diskusi dan aktivitas HTI lainnya.

Dalam bukunya tersebut, secara komprehensif dia mengungkapkan latar belakang sejarah munculnya HT, khususnya di Indonesia. Diperkuat dengan data yang ia dapat sejak menjadi tim di Watimpres.

“Jadi HTI ini mirip dengan dakwahnya orang-orang NU, karena banyak kader HTI adalah orang NU. Tapi saya belum tahu orang HTI yang kembali pada NUnya secara ideologi.”, pungkas Ketua Puslitbang dan dosen bindang Pemikiran Islam dan Civic Education di Sekolah Tinggi Kulliyatul Qur’an (STKQ) al-Hikam Depok ini.

Acara launching ini juga mengundang beberapa pembicara untuk mendiskusikan isi buku setebal 192 halaman. Diantaranya adalah KH. Abdul Mun’im Dz (Wasekjend PBNU), Adung Abdullah (Sekjend PP. GP. Ansor), Ust. Hilmi al-Siddiqy al-‘Araqy (Staf Ahli Dewan Pertimbangan Presiden RI Bagian Sosial Keagamaan). Dan dimoderatori oleh wartawan senior NU Online, A. Khoirul Anam (Kandidat Doktor Pasca UIN Jakarta).

Menyetujui penjelasan Sofiuddin, Kiai Mun’im sebagai pelaku sejarah, mengatakan sama seperti yang lain, Hizbut Tahrir itu kata dia adalah partai politik.

"Jadi HTI itu parpol, bukan jamaah bukan golongan, itu inti dan kuncinya," kata Kiai Mun'im.

Kemudian, menurut Kiai Mun’im, ketika HTI mengalami kesulitan perkembangan di Indonesia, ia berkamuflase melalu berbagai kegiatan. Walaupun dalam dakwahnya tidak Wahabi.

“Sehingga tidak menimbulkan ketegangan dalam dakwahnya. Kalau Wahabi pasti sudah berkonfrontasi dengan Ahlussunah wal Jamaah Nahdliyah dan Pesantren," tandasnya.

Tetapi secara politik, kata Kiai Mun'im sangat mengusik NU. Ini ditandai dengan muncul HTI secara terbuka era pemerintahan SBY, NU mengkritik keras.

“sampai kita mendata satu persatu, kita pecat. Ini berbahaya, bukan benci sama orangnya, tapi kita kasihan warga NU yang terseret gerakan ini. Karena sudah bersentuhan dengan dasar negara," pungkasnya.

Sekjen GP Anshor Adung Abdullah lebih menekankan dari perspektif gerakan pemuda. HTI kata Adung pada awal-awal muncul di kampus-kampus. Saat itu belum ada desakan pembubaran atau penolakan. Karena masih sebatas wacana akademik atau tahap edukasi.

“Ada dua kelompok besar dan strategis yang menjadi target HTI, yaitu kelompok terpelajar dan TNI-POLRI. Walaupun belum pada gerakan makar, tapi jika dibiarkan akan sangat berbahaya," kata Adung.

Pustaka Compass kembali melauncing buku terbarunya berjudul “Gerakan Politik HTI, Mampukah Menjadi Gerakan Dakwah?” Karya Sofiuddin. Menurut inisiatornya, Jazilul Fawaid buku ini membuktikan bahwa di balik gerakan dakwahnya, HTI menjalankan gerakan politik. Kegagalan HTI dalam memahami NKRI dan Pancasila. Sekaligus menawarkan solusi menyikapi keberadaan HTI ini. [san]
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Ridwan Kamil Lirik Bima Arya

Ridwan Kamil Lirik Bima Arya

, 22 AGUSTUS 2017 , 13:00:00

Korban Penyiksaan Novel Baswedan Mengadu Ke DPR
Kostrad Didik Bela Negara Mahasiswa Uniga

Kostrad Didik Bela Negara Mahasiswa Uniga

, 21 AGUSTUS 2017 , 22:39:00

Bantuan Pangan BNI

Bantuan Pangan BNI

, 20 AGUSTUS 2017 , 02:40:00

Lomba Dayung Kemerdekaan

Lomba Dayung Kemerdekaan

, 20 AGUSTUS 2017 , 17:25:00