Berita Politik

Telkom Indonesia
Rita Widyasari

Tersangka Korupsi Alquran Dijuluki Santri Dan Anak Jin

Politik  JUM'AT, 11 AGUSTUS 2017 , 10:59:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Tersangka Korupsi Alquran Dijuluki Santri Dan Anak Jin

Fahd El Fouz/Net

RMOL. Ada-ada saja kode dan julukan para pelaku korupsi proyek pengadaan Al-quran dan laboratorium komputer. Di sidang Pengadilan Tipikor Jakarta kemarin terungkap, Fahd El Fouz yang jadi salah satu tersangka diberi julukan "santri" dan "anak jin". Ada juga kode seperti "pengajian" dan "murtad".
Julukan "santri", diungkapkan Sekretaris Ditjen Pendidikan Islam Kementerian Agama, Affandi Mochtar saat ditanya jaksa soal istilah itu.

Menurut Affandi, dirinya mengetahui istilah "santri" dari eks anggota komisi VIII DPR Zulkarnaen Djabar. Zulkarnaen, sudah dibui duluan dalam kasus ini. "Zulkarnaen bilang 'nanti ada santri yang mau ketemu Anda'," tutur Affandi.

"Santri itu siapa, apakah Anda tahu?" tanya jaksa Lie Putra Setiawan. Affandi pun menjawab, santri adalah julukan bagi dua orang, yakni Fahd dan Dendy Prasetia Zulkarnaen Putra, anak Zulkarnaen, yang diduga sebagai perantara suap antara perusahaan pemenang tender dengan Kemenag.

Kemudian, setelah keduanya datang ke kantor Kemenag, Zulkarnaen kembali menghubunginya. "Dia tanya, 'Sudah ada 'santri-santri' yang datang atau belum?' Saya jawab sudah," imbuhnya. "Kemudian dijawab Pak Zulkarnaen, ‘tolong dibantu ya'."

Pertemuan itu terjadi pada September 2011. Dalam pertemuan, Fahd dan Dendy menyampaikan, mereka kompeten dalam bidang komputer. Selain itu, mereka juga menyampaikan perusahaan pengadaan paket pekerjaan komputer di Kemenag adalah milik Zulkarnaen Djabar.

Fahd dan Dendy pun minta agar Affandi membantu pihak yang dikehendaki Zulkarnaen Djabar menjadi pemenangnya. Permintaan ini langsung direspons positif oleh Affandi dengan memanggil panitia pengadaan, Bagus Natanegara, untuk memberi penjelasan lebih rinci terkait kegiatan pengadaan tersebut.

Jaksa juga bertanya soal istilah atau kode lain seperti "pengajian" dan "murtad" kepada Affandi. Affandi mengungkapkan, pengajian adalah pembahasan tentang lelang proyek. Sementara murtad adalah mangkir dari kesepakatan yang sudah ada.

Dalam surat dakwaan, istilah 'murtad' dilontarkan Zulkarnaen kepada Kepala Unit Layanan Pengadaan (ULP) Kemenag Mohammad Zen. Menurut Affandi, saat itu Zen sempat tidak meloloskan permintaan Zulkarnaen untuk menetapkan PT Batu Karya Mas sebagai pemenang lelang. "Tapi akhirnya perusahaan itu tetap menang," tuturnya.

Sementara julukan Fahd yang kedua yakni anak jin, terungkap dari kesaksian Mohammad Zen. Julukan anak jin itu diketahuinya saat berkomunikasi dengan Kasubag Perlengkapan Umum Ditjen Pendidikan Islam Kemenag, Bagus Natanegara.

Menurut Zen, Bagus menyatakan kepadanya, bakal ada "anak jin" yang akan menemuinya. Tak lama, Fahd datang ke ruangan Zen. Ditanya jaksa, Zen mengaku tidak tahu menahu latar belakang pemberian istilah anak jin kepada Fahd.

Selain kedua orang itu, ada satu orang lagi yang bersaksi, yakni Sekretaris Direktorat Jenderal bimbingan masyarakat Islam di Kementerian Agama saat proyek itu terjadi, Abdul Karim. Menurutnya, Fahd yang memperkenalkan diri sebagai utusan Zulkarnaen meminta pihaknya agar memenangkan perusahaan tertentu dalam pengerjaan proyek itu.

Saat diberi kesempatan menanggapi kesaksian, Fahd bertanya kepada Affandi, apakah ada orang dari partai lain yang mengintervensi proyek itu selain Zulkarnaen yang berasal dari Partai Golkar. Affandi menjawab, "saya tidak merasakan".

Fahd kemudian mencecar Affandi dengan menyebut beberapa nama. Di antaranya, Said Abdullah dari PDIP, Nurul Iman Mustofa dari Demokrat, dan Jazuli Juwaini dari PKS.

"Pernah ditelepon Said Muhammad PDIP? Ada bahasan 'Saya sudah rapatkan dengan 'adinda' semua.' Adinda ini maksudnya adalah saya, pernah?" tanya Fahd. Affandi mengaku lupa.

"Lalu Nurul Iman Mustofa?" cecar Fahd yang lagi-lagi dijawab lupa oleh Affandi. "Jazuli Juwaini?" sambung Fahd. "Saya lupa, tidak ingat," Affandi mengulang jawabannya.

Fahd pun tampak kesal. "Ini lupa semua Yang Mulia. Bagaimana yang mulia," protes Fahd kepada majelis hakim. Hakim pun mengingatkan Fahd dia tidak bisa memaksa saksi. Fahd juga sempat protes kepada jaksa Kemudian, dia meminta Affandi untuk buka-bukaan. Dia tak mau dikorbankan sendirian. "Anda harus jujur biar terbuka, jangan saya sendiri yang menjadi korban. Tingkat kebohongan Pak Affandi 70 persen," tegasnya.

Dalam kasus ini, Fahd didakwa bersama-sama dengan anggota Badan Anggaran DPR Zulkarnaen Djabar dan anaknya, Dendy Prasetia Zulkarnaen Putra. Ketiganya disebut menerima suap sebesar Rp 14,3 miliar karena menjadikan PT Batu Karya Mas sebagai pemenang dalam pekerjaan pengadaan laboratorium komputer.

Kemudian, menjadikan PT Adhi Aksara Abadi Indonesia sebagai pemenang dalam pekerjaan pengadaan kitab suci Alquran tahun 2011. Selain itu, memenangkan PT Sinergi Pustaka Indonesia sebagai pemenang dalam pekerjaan pengadaan Alquran tahun 2012. Kasus ini juga menyeret nama Priyo Budi Santoso. Bekas wakil ketua DPR Periode 2009-2014 itu disebut turut menerima jatah terkait proyek pengadaan Alquran untuk tahun 2012. Uang tersebut diserahkan langsung oleh Fahd melalui adik Priyo, di kediamannya. ***

Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Prabowo Puji Mahasiswa UBK

Prabowo Puji Mahasiswa UBK

, 18 AGUSTUS 2017 , 21:00:00

Anggota OPM Berikrar Setia NKRI

Anggota OPM Berikrar Setia NKRI

, 18 AGUSTUS 2017 , 19:00:00

Foto Bersama Presiden

Foto Bersama Presiden

, 17 AGUSTUS 2017 , 02:21:00

HUT RI DI Pyongyang

HUT RI DI Pyongyang

, 17 AGUSTUS 2017 , 10:57:00

Cium Merah Putih Dengan Khidmat

Cium Merah Putih Dengan Khidmat

, 17 AGUSTUS 2017 , 22:30:00