Nyawa Ahok Dibandrol 1 M

Terungkap Di Sidang Buni Yani

Politik  RABU, 16 AGUSTUS 2017 , 09:01:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Nyawa Ahok Dibandrol 1 M

Basuki Tjahaja Purnama/Net

RMOL. Ada info menarik soal ancaman pembunuhan yang menimpa Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok. Dalam sidang Buni Yani, kemarin, terungkap nyawa bekas gubernur DKI Jakarta yang sekarang mendekam di Rutan Mako Brimob itu, sempat dibandrol Rp 1 miliar.
Hal itu diungkapkan Ahok dalam BAP-nya yang dibacakan jaksa di Gedung Perpustakaan dan Arsip Kota Bandung. Ahok sendiri tidak hadir dalam sidang kesembilan kasus dugaan pelanggaran UU Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) yang menjerat Buni Yani. Jaksa penuntut umum (JPU) Andi M. Taufik menyebut, pihaknya sudah memanggil Ahok untuk datang ke persidangan.

"Namun yang bersangkutan membuat surat. Begitu juga dari Lapas Cipinang yang tidak memberikan izin dengan alasan tertentu," ujar Jaksa Taufik. JPU telah berusaha menghadirkan Ahok di sidang Buni Yani sebanyak tiga kali.

Meski Ahok tak hadir, Jaksa Andi meminta kesaksian Ahok dibacakan dalam persidangan. Kesaksian yang dituangkan Ahok di depan penyidik pada 7 November 2016 sudah diklaim jaksa sudah di bawah sumpah.

Namun, tim pengacara Buni Yani menolak. Mereka bersikukuh meminta Ahok dihadirkan dalam persidangan. Menurutnya, berdasarkan pada Pasal 162 ayat 1 KUHAP itu, saksi tidak memenuhi kriteria untuk dibacakan keterangannya.

"Karena jaksa tadi telah menyampaikan, mereka telah melakukan panggilan tiga kali," kata Irfan Iskandar anggota penasehat hukum Buni Yani. Ia juga mempermasalahkan pengambilan sumpah Ahok saat diperiksa. Majelis hakim yang diketuai M. Sapto pun menskors sidang.

Setelah melakukan musyawarah, majelis hakim menetapkan atau memerintahkan penuntut umum untuk membacakan keterangan Ahok secara lengkap. "Kemudian kepada penasihat hukum, sikapnya akan kami catat di berita acara. Tadi menolak," kata M. Sapto.

Dari BAP Ahok yang dibacakan jaksa, Ahok merasa difitnah lantaran postingan yang diunggah Buni Yani di akun Facebook sehingga banyak orang, terutama warga DKI Jakarta, menganggapnya menista salah satu agama. Buntutnya, dia merasa keselamatannya terancam. "Saya merasa terancam karena ada seseorang yang ingin membunuh saya, dengan imbalan sebesar Rp1 miliar karena menista agama," ujar Ahok.

Selain merugikan dirinya, Ahok merasa Buni Yani juga "mengancam" warga Jakarta. Sebab, postingan tersebut diyakini menjadi pemicu demonstrasi besar-besaran pada 4 November 2016.

"Saya merasa Jakarta dan seluruh warga Jakarta menjadi terancam dan mengalami teror atas demonstrasi tanggal 4 November 2016," imbuhnya.

Ahok juga merasa mengalami kerugian secara politis. Ia mengaku ada partai politik yang memintanya mundur sebagai calon Gubernur DKI Jakarta.

"Dalam hal pencalonan saya sebagai calon Gubernur DKI Jakarta, ada satu partai meminta saya mundur karena saya dituduh menista agama," kata JPU membacakan BAP Ahok.

Ahok membenarkan, video yang diunggah Buni Yani merupakan video yang direkam oleh Diskominfo DKI pada 27 September 2016, saat dirinya melakukan kunjungan kerja ke Kepulauan Seribu.

Namun, Ahok mengatakan bahwa kutipan terkait Surat Al Maidah 51 yang ditulis oleh Buni Yani di Facebook tidak sesuai dengan fakta yang disampaikan saat ia berpidato di Kepulauan Seribu.

Yang diucapkan Ahok adalah; "... jadi jangan percaya sama orangkan bisa saja dalam hati kecil bapak-ibu enggak bisa pilih saya, karena dibohongi pakai Surat Al Maidah 51 macam-macam itu loh. Itu hak bapak-ibu ya, jadi kalau bapak-ibu merasa enggak bisa milih saya takut masuk neraka dibodohi gitu ya enggak apa-apa, karena ini kan panggilan pribadi bapak-ibu."

Total, ada 13 poin kesaksian Ahok berdasarkan berita acara pemeriksaan (BAP) saat pemeriksaan Ahok oleh penyidik Ditreskrimsus Polda Metro Jaya.

Menanggapi pembacaan BAP Ahok, salah satu pengacara Buni Yani Aldwin Rahadian tidak berdasar sehingga bisa digugurkan. Menurutnya, ucapan Ahok-lah yang membuat keresahan di masyarakat karena menyinggung surat Al Maidah.

"Timbulnya keresahan ini bukan karena postingan Buni Yani, tetapi keresahan itu karena ucapan dari terdakwa sendiri tentang surat Al- Maidah. Jadi jelas, kesaksian ini dapat digugurkan dan ini suatu fitnah kepada Buni Yani," tegasnya.

Untuk diketahui, Buni Yani diseret ke meja hijau setelah mengunggah potongan video Ahok, saat melakukan kunjungan ke Kepulauan Seribu, ke akun Facebook pribadinya.

Buni Yani juga dinilai melanggar Pasal 32 ayat 1 UU ITE dengan memotong video yang asalnya berdurasi 1 jam 48 menit menjadi 30 detik.

Sebetulnya, ancaman terhadap Ahok ini juga pernah disampaikan tim kuasa hukum Polda Metro Jaya dalam sidang praperadilan yang diajukan Buni Yani.

"Melalui keterangannya, saksi Basuki Tjahaja Purnama merasa mengalami fitnah karena banyak orang, terutama warga DKI Jakarta, berpikir saksi menistakan agama. Saksi merasa terancam keselamatannya karena ada tawaran membunuh saksi dengan bayaran Rp 1 miliar, terancam oleh aksi 4 November, diminta mundur dari pencalonannya dalam Pilkada, dan ditolak," ujar anggota tim kuasa hukum Polda Metro Jaya, Nova Irone Surentu dalam pembacaan jawaban Polda Metro Jaya terhadap pokok permohonan praperadilan penetapan status tersangka Buni oleh Polda Metro Jaya di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Rabu (14/12/2016).

Video ancaman pembunuhan Ahok juga sempat beredar bulan November 2016. Video berjudul "Gila!!! Bunuh Ahok, Dapat Hadiah Rp 1 Miliar" berdurasi 4 menit 13 detik itu diposting akun youtube Admin Ilmusiana.

Dalam video tampak seorang lelaki paruh baya yang mengenakan pakaian serba putih tengah berorasi. Dia meminta agar polisi tidak mengawal Ahok saat kampanye. Ia juga bersedia membayar Rp 1 miliar jika ada yang sanggup membunuh Ahok.

"Kami minta kalau ada nomor 2 masuk Kebon Jeruk, Brimob kami minta jangan dikawal, lepasin aje, kita yang mainin. Gue kasih Rp 1 miliar untuk bunuh Ahok," kata pria tersebut dalam orasinya dihadapan perwira polisi berpangkat AKBP.

"Gue jual rumah gue Rp 10 miliar, ada Rp 1 miliar ditangan gue, gue kasih siapa yang bisa motong leher Ahok," sambungnya.

Jaringan Advokat Republik Indonesia (JARI) sempat melaporkan video ancaman itu ke Polda Metro Jaya. Laporan diterima, namun tidak diusut. Sebab, laporan seperti itu merupakan delik materil atau harus ada perbuatan yang terjadi. Kalau tidak terjadi maka tidak bisa dituntut.

Ahok sendiri sempat menanggapi ancaman itu dengan candaan. "Berarti harga saya sama artis sama. Sama-sama Rp1 miliar," kata Ahok Di Rumah Lembang, Menteng, Jakarta Pusat, Kamis (17/11/2016). ***

Komentar Pembaca
Romo Franz Magnis Suseno - Ibu Theresa (Part 4)
Romo Franz Magnis Suseno - Sri Paus Fransiskus (Part 3)
Nekat Terobos Busway

Nekat Terobos Busway

, 10 DESEMBER 2017 , 00:42:00

Membaca <i>Moeslim Choice</i>

Membaca Moeslim Choice

, 10 DESEMBER 2017 , 11:37:00

Aktivis Komtak Dukung Palestina

Aktivis Komtak Dukung Palestina

, 10 DESEMBER 2017 , 11:15:00