Rita Widyasari

Jokowi Harus Waspada Jika Parpol Pendukung Tiba-Tiba 'Mbalelo' Jelang Pendaftaran

Politik  KAMIS, 14 SEPTEMBER 2017 , 02:50:00 WIB | LAPORAN: WAHYU SABDA KUNCAHYO

Jokowi Harus Waspada Jika Parpol Pendukung Tiba-Tiba 'Mbalelo' Jelang Pendaftaran

Jokowi

RMOL. Presiden Joko Widodo sudah mengantongi tiket untuk maju pada Pemilihan Presiden 2019 mendatang. Mengingat, sudah ada empat partai yang resmi menyatakan akan mendukungnya.
Yaitu, Nasdem, Hanura, PPP, dan Golkar. Gabungan keempat partai politik tersebut sudah melebihi 20 persen kursi di DPR atau 25 persen suara nasional, ambang batas untuk mengusung capres-capres atau presiden threshold.

Namun bukan berarti itu menjadi jaminan Jokowi akan melenggang mulus. Karena parpol yang sudah menyatakan dukungan itu dikhawatirkan tidak konsisten. "Konsistensi parpol ini patut diuji," kata pengamat politik Ray Rangkuti saat dihubungi, Rabu (13/9).

Jika partai tersebut tidak konsisten, tidak menutup kemungkinan suara partai untuk Jokowi di Pilpres tidak mencukupi 20-25 persen. "Oleh karena itu partai tidak boleh main-main memberikan dukungannya. Jangan sampai last minute berubah dukungan," ujar Ray.

Sebelumnya, Peneliti dari Lingkar Studi Elektoral (LSE), Abi Rekso Panggalih, menilai Presiden patut mewaspadai akan tiga hal krusial terkait dengan presidential threshold tersebut.

Pertama, Jokowi belum tentu bisa menjaga skema dukungan partai politik yang kini berada bersama pemerintah. Yaitu PDIP, Hanura, Nasdem PKB, PKPI, PPP, Golkar, serta PAN.

"Konteks ini sama halnya pada pertarungan legislatif sebelumnya. Ternyata PDIP sebagai partai pemenang tidak bisa menjadi ketua DPR-RI. Itu artinya tidak ada jaminan mutlak akan jumlah komposisi dukungan suara," ungkap Abi Rekso (Selasa, 12/9).

Kedua, sikap diam dari kelompok partai oposisi atau partai yang menolak adanya presidential threshold-Gerindra, PKS Demokrat, dan PAN-juga harus diwaspadai. Karena sikap mereka tidak tercermin dengan kegigihan untuk menggugat aturan presiden threshold tersebut.

Menurutnya, bisa jadi partai penolak presidential threshold tersebut justeru mengambil keuntungan dengan menumpang pada isu 20-25% atau ada skenario yang disiapkan secara khusus sebagai kejutan tsunami politik untuk Presiden Jokowi.

"Kejutan ini bisa jadi akan menjadi sejarah politik baru, dimana presiden dengan tingkat kepuasan rakyat yang sangat tinggi, tetapi tidak dapat maju periode kedua karena tidak memiliki kendaraan politik," beber dia.

Karena itu dia menambahkan presidential threshold model ini banyak kelemahan. Dengan proporsi 20-25% Jokowi akan sangat bergantung pada partai pengusung nanti.

"Apa yang terjadi pada Ahok, bisa terulang kembali pada pencalonan Presiden 2019, jika dirinya tidak mendapat dukungan partai sebesar 20-25%. Bisa-bisa dirinya harus mengumpulkan dukungan KTP seperti yang Ahok lakukan pada pilkada DKI kemarin. Memangnya bisa Presiden jalur independen?" sambung Abi Rekso berkelakar.[zul]
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
0%
Sedih
Sedih
0%
Marah
Marah
0%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
0%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
Baznas Ajak Berdonasi Sambil Belanja

Baznas Ajak Berdonasi Sambil Belanja

, 22 SEPTEMBER 2017 , 19:00:00

Kesehatan Setnov Belum Stabil

Kesehatan Setnov Belum Stabil

, 22 SEPTEMBER 2017 , 13:00:00

HUT TNI 72

HUT TNI 72

, 22 SEPTEMBER 2017 , 05:10:00

Dukung Kemajuan Ekonomi Digital

Dukung Kemajuan Ekonomi Digital

, 22 SEPTEMBER 2017 , 00:35:00

Kunjungi Booth BCA Di Banking Expo

Kunjungi Booth BCA Di Banking Expo

, 22 SEPTEMBER 2017 , 01:23:00