Bela Megawati, Maruarar Luruskan Pernyataan Direktur SMRC

 JUM'AT, 06 OKTOBER 2017 , 07:03:00 WIB | LAPORAN: WIDIAN VEBRIYANTO

Bela Megawati, Maruarar Luruskan Pernyataan Direktur SMRC

Foto/Net

RMOL. Politikus PDI Perjuangan Maruarar Sirait mengoreksi Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research Institute (SMRC) Djayadi Hanan. Dengan penuh pembelaan kepada sosok Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri, Maruarar meluruskan Djayadi Hanan.
Pada mulanya, saat pemaparan hasil survei SMRC, Djayadi mengatakan bahwa secara kualitatif, sosok tokoh partai dan seorang calon presiden akan sangat berdampak pada kenaikan maupun penurunan dukungan kepada partai politik. PDI Perjuangan misalnya dapat berkah elektoral dengan suara partai mencapai 34 persen pada tahun 1999 sebagai dampak dari ketokohan Megawati.

"Bu Mega masuk politik tahun 1994, lalu pada Pemilu 1999 PDI Perjuangan dapat suara 34 persen," kata Djayadi Hanan di Menteng, Jakarta Pusat (Kamis, 5/10).  

Pernyataan ini langsung diluruskan Maruarar. Menurutnya, Megawati masuk partai bukan pada tahun 1994, tapi pada tahun 1986. Karena itu, perjalanan dan pengalaman Megawati dalam berpolitik sangat panjang dan matang.

"Tahun 1986 Bu Mega mengawali politik dari bawah dengan menjadi wakil ketua PDI Cabang Jakarta Pusat. Makanya keteguhan, idealisme dan ideologi Bu Mega sangat teruji dan matang sehingga menjadi pemimpin yang ideologis. Makanya PDI Perjuangan juga solid di bawah kepemimpinan beliau," ungkap Maruarar.

Maka, sambung Maruarar, tak heran bila elektabilitas partai paling tinggi masih berada di tangan PDI Perjuangan. Rinciananya, PDIP 27,1 persen; Golkar 11,4 persen; Gerindra 10,2 persen; Demokrat 6,9 persen; PKB 5,5 persen; PKS 4,4 persen; PPP 4,3 persen; PAN 3,6 persen; Nasdem 2,4 persen; Perindo 2 persen; Hanura 1,3 persen.

"Bu Mega merupakan sosok penting dalam menjaga soliditas suara partai," tegas Maruarar.

Djayadi kemudian menjelaskan bahwa setelah tiga tahun presiden Jokowi memerintah kecenderungan dukungan politik pada Jokowi untuk kembali menjadi presiden sejauh ini semakin kuat. Belum ada tokoh lain yang kompetitif terhadap Jokowi. Prabowo masih yang paling kompetitif namun masih stagnan.

Djayadi juga menjelaskan, data itu didapat dari survei yang digelar pada 3 hingga 10 September 2017 dengan 1.057 responden di seluruh Indonesia yang mempunyai hak pilih. Responden dipilih secara random. Margin of error 3,1 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Selain Maruarar, hadir dalam paparan survei dengan tema "Kecenderungan Dukungan Politik Tiga Tahun Presiden Jokowi" ini politikus Golkar TB Ace Hasan Syadzali dan politikus Demokrat Didi Irawadi Syamsuddin. [ian]

Komentar Pembaca
Penembakan Kader Prabowo, Bukan Soal Politik!
Supir Angkot: Hak Kami Direbut Anies!

Supir Angkot: Hak Kami Direbut Anies!

, 22 JANUARI 2018 , 17:00:00

Pesawat Hercules TNI Angkut Bantuan Kemanusiaan Untuk Warga Asmat
Kang Emil Angkat Koper

Kang Emil Angkat Koper

, 20 JANUARI 2018 , 20:57:00

Pengerukan Kali Ciliwung

Pengerukan Kali Ciliwung

, 20 JANUARI 2018 , 17:31:00