Verified

Dirjen Pajak Diingatkan Kasus Ahok

Gara-gara "Yesus Pun Bayar Pajak"

Politik  RABU, 11 OKTOBER 2017 , 09:04:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Dirjen Pajak Diingatkan Kasus Ahok

Foto/Net

RMOL. Selebaran "Yesus Juga Bayar Pajak" yang dikeluarkan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan bikin heboh masyarakat. Alih-alih dipuji, banyak yang justru mengingatkan Ditjen Pajak; jangan sampai kesandung masalah penodaan agama seperti Ahok.
Seperti diketahui, selebaran ini rame dibahas warganet selama dua hari terakhir ini. Jika dibentangkan, selebaran ini terbagi menjadi tiga bagian. Di pojok kiri terdapat dua pria. Satu mengenakan baju romawi, satunya lagi digambarkan mirip Yesus lengkap dengan janggutnya yang khas.

Gambar tersebut mengilustrasikan seorang pria membacakan informasi, seperti sebuah tagihan kepada Yesus. Di atasnya terdapat dua kutipan, pertama "Yesus mengajarkan untuk memberikan apa yang menjadi hak negara, berupa pajak,". Kedua, "Yesus juga memberi contoh sikap taat dalam membayar Bea Bait Allah (temple tax),".

Sementara di bagian tengah selebaran, terdapat kutipan ayat Roma 13:7a "Bayarlah kepada semua orang apa yang harus kamu bayar: pajak kepada orang yang berhak menerima pajak, cukai kepada orang yang berhak menerima cukai". Di sisi kanannya, terdapat logo Direktorat Jenderal Pajak, ada juga gambar kedua tangan yang seolah-olah memberikan hadiah kepada Indonesia. Dan tak ketinggalan tinta putih bertuliskan Yesus Juga Bayar Pajak.

Menanggapi ini, warganet pun heboh. Mayoritas mengkritik Ditjen Pajak yang mengeluarkan selebaran model kayak gini. "Pada tau nggak brosur pajak bergambar Yesus? Nyeleneh nggak sih," tanya @zamzani.

"Apa hubungannya Yesus dengan bayar pajak. Silakan umat Nasrani melaporan ke pihak berwajib karena ini penodaan agama. Inget Ahok," tulis @AlifMedia memanas-manasi. Sebagian mengingatkan Ditjen Pajak, jangan sampai kesandung kasus penistaan agama seperti Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Ada juga netizen yang berspekulasi, langkah ini dilakukan Ditjen Pajak karena panik, penerimaan negara dari pajak masih jauh dari target. Tercatat, per 30 September 2017, penerimaan pajak baru Rp 770,7 triliun, atau hanya 60 persen dari target pemerintah yang dipatok dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara Perubahan (APBN-P) 2017 sebesar Rp 1.283,6 triliun.

Usul punya usul, ternyata selebaran ini dibentuk setelah Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengundang pemuka agama pada Senin (16/01) di Ruang CCB lantai 2 Gedung Utama Ditjen Pajak, Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Saat itu pemerintah memang tengah gencar mensosialisasikan program pengampunan pajak (tax amnesty).

Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Ditjen Pajak Hestu Yoga Saksama menerangkan, selebaran itu bertujuan untuk mensosialisasikan pajak ke seluruh lapisan masyarakat. "Kami memanfaatkan berbagai sarana dan berusaha menjangkau sebanyak mungkin masyarakat, termasuk umat beragama. Salah satunya dengan membuat materi berupa leaflet sosialisasi pajak dari perspektif agama yang diakui di Indonesia," ujarnya.

Yoga menegaskan, selebaran itu bukan satu-satunya. Ditjen Pajak juga membuat sosialisasi dalam bentuk selebaran dari perspektif Islam, Hindu, Buddha, dan Khonghucu. Materi selebarannya pun sudah ada sejak awal 2017, dan telah diedarkan saat sosialisasi Tax Amnesty.

Tak lupa Yoga mewakili pemerintah, meminta maaf apabila pembuatan selebaran ini menyingung sejumlah pihak.

"Ditjen Pajak menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat pihak yang merasa kurang nyaman dengan beredarnya leaflet tersebut," tuturnya. ***
Baper Meter
 Loading...
Suka
Suka
0%
Kocak
Kocak
33%
Sedih
Sedih
8%
Marah
Marah
50%
Kaget
Kaget
0%
Tidak Peduli
Tidak Peduli
0%
Waspada
Waspada
8%
Takut
Takut
0%

Komentar Pembaca
AHY Kandidat Terkuat Demokrat

AHY Kandidat Terkuat Demokrat

, 20 OKTOBER 2017 , 19:00:00

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

Rakyat Makin Susah Dipimpin Jokowi

, 20 OKTOBER 2017 , 17:00:00

Sigit Diperiksa KPK

Sigit Diperiksa KPK

, 20 OKTOBER 2017 , 03:50:00

Salat Maghrib Berjamaah

Salat Maghrib Berjamaah

, 21 OKTOBER 2017 , 00:50:00

Kritisi Jokowi-JK

Kritisi Jokowi-JK

, 21 OKTOBER 2017 , 05:01:00