300 "Alexis" Masih Hidup, Kapan Mau Dibunuh Nies?

 RABU, 01 NOVEMBER 2017 , 11:31:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

300 "Alexis" Masih Hidup, Kapan Mau Dibunuh Nies?

Foto/Net

RMOL. Gubernur DKI Anies Baswedan sudah "membunuh" Alexis dengan tak memperpanjang izin hotel dan griya pijatnya. Tapi, diduga masih ada 300 "Alexis" lain yang masih hidup. Yang ini kapan mau dibunuh, Pak Anies?
Angka di atas diungkap pengamat gaya hidup Moammar Emka. Menurut penulis buku "Jakarta Undercover" ini, ada lebih dari 300 hotel lain yang memiliki konsep serupa dengan Alexis di Jakarta. "Itu lebih dari 300 tempat yang punya griya pijat, karoke, spa dan sauna, cuma dengan berbagai skala, yakni tengah, kecil, dan besar," ujar Emka, kemarin.

Nama Alexis menjadi besar ketika Ahok, pada 16 Februari 2016 menyebut ada surga dunia di lantai 7 hotel dan griya pijat itu. Alexis kembali mencuat setelah Anies menyebutnya dalam debat cagub Pilkada DKI 2017 lalu. Saat itu Anies mempertanyakan ketegasan Ahok yang tak berani menutup Alexis. Anies pun berjanji jika terpilih, akan menutup hotel yang berada di Jalan RE Martadinata, Jakarta Utara itu.

Nah, menurut Emka, jika Alexis dianggap sebagai simbol dari praktik prostitusi, Anies juga harus menutup 300-an tempat yang serupa dengan Alexis. "Harusnya tempat-tempat lain itu juga ditutup," tegasnya. Emka mengingatkan, jika tak dilakukan, langkah Anies menutup Alexis dinilai kental nuansa politis. "Jangan hanya karena kepentingan politis karena dulu kampanye ada janji menutup Alexis," kata Emka.

Dia sendiri belum yakin Anies menutup Alexis. Sebab, surat yang dikeluarkan Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu terkait Tanda Daftar Usaha Pariwisata, tidak ada kata 'penutupan'. Yang ada adalah, izin Hotel Alexis dan Griya Pijat Alexis belum dapat diproses.

Namun Emka juga mempertanyakan, atas dasar apa izin Alexis belum bisa diproses. Dia mencontohkan, diskotek Stadium ditutup Ahok lantaran terbukti narkoba. "Melanggar perda dan norma kesusilaan? Itu tentu harus berdasarkan bukti keberadaan transaksi seks secara konkret," ujarnya.

Anies sendiri mengaku memiliki bukti kuat untuk tidak memproses perpanjangan TDUP Hotel dan Griya Spa Alexis. Bukti itu berupa foto. Namun, dia enggan membeberkannya ke publik. "Kalau bangunan melanggar bisa difoto dan ditunjukkan. Masa ini foto (Alexis) kami tunjukkan? Bagaimana coba?" seloroh Anies usai apel konsolidasi di Polda Metro Jaya, kemarin.

Anies berjanji, bakal menindak tempat-tempat yang menyalahgunakan izin usahanya seperti Alexis. "Kami eksekusi. Bila ada pelanggaran, kami tidak akan pandang bulu," tegas eks Mendiknas ini.

Terpisah, Wagub DKI Sandiaga Uno memastikan, Pemprov DKI tak akan berhenti membidik tempat-tempat usaha yang terkait prostitusi. "Kami akan tegas," ucapnya di Balai Kota, kemarin.

Sementara, kemarin pihak Alexis menggelar konferensi pers menanggapi langkah Anies yang tak memproses perpanjangan izin usahanya. Ada 9 poin yang dibacakan Legal & Corporate Affair Alexis Group Lina Novita dan rekannya, M. Fajri. Intinya, ada pada poin kelima yang menyatakan, pihaknya menghargai langkah Anies itu. Alexis pun melakukan penghentian operasional hotel dan griya pijat. "Langkah tersebut kami ambil untuk menunjukkan bahwa pihak kami taat aturan," ujar Lina yang memulai konferensi pers pukul 11 siang.

Selama ini, menurut Lina, Alexis juga taat hukum dengan rajin menyetor pajak daerah. "Kami merupakan penyumbang pajak nyata di DKI Jakarta. Kalau tidak salah Rp 30 miliar per tahun," ungkap Lina.

Pajak yang nilainya cukup fantastis itu mencakup keseluruhan dari usaha Alexis Group, seperti hotel, restoran, dan griya pijat. Jika pajaknya saja sebesar itu, berapa omzet Alexis per harinya? "Bisa dibayangkan omzetnya berapa. Tapi kalkulasi, saya tak bisa jawab, takut salah," jawab Lina.

Lina juga mengklaim, tak ada praktik asusila, atau penggunaan narkoba di tempat itu. Dia juga membantah kasak-kusuk yang menyebut soal adanya pekerja seks komersial (PSK) yang dipekerjakan di Alexis. "Tak benar itu," tegasnya.

Menurutnya, Alexis memiliki 600 pegawai tetap dan 400 pegawai lepas. 150 di antaranya adalah terapis alias tukang pijat. Tidak ada orang asing. Kini, mereka semua dirumahkan untuk sementara.

Pihak Alexis sendiri belum memikirkan soal pesangon bagi para karyawannya. Sebab, mereka masih akan melakukan upaya untuk "menghidupkan" kembali izin operasinya. Salah satunya, melakukan audiensi dengan Pemprov Jakarta. Alexis pun tak akan mengambil langkah hukum seperti melayangkan gugatan ke PTUN.

Membuktikan tak ada praktik prostitusi serta asusila, Lina dan Fajri memandu puluhan wartawan melakukan "tour" ke ke lantai 7 hotel tersebut. "Yang jadi polemik kan lantai 7, mari kita lihat sama-sama sebetulnya seperti apa lantai 7 itu," ajak M. Fajri.

Ada apa di sana? Membuka lift, yang pertama kali terlihat adalah meja kasir. Meja kasir itu kosong. Bangku-bangkunya, yang terbuat dari besi, diletakkan terbalik. Lampunya temaram, pas untuk membangun suasana rileks. Ada marka larangan untuk membawa telepon genggam. Ada juga larangan mengambil gambar. "Ini kan tempat spa, kalau bawa hp (handphone), nggak konsen, bisa juga langgar privasi orang," tutur Fajri, beralasan.

Ada sebuah plang bertuliskan "Bathhouse Spa & Lounge". Mengikuti arah yang ditunjukkan plang itu, pengunjung akan bertemu dengan ruang loker untuk menyimpan barang. Ada 100 loker di sana. Keluar dari loker, ada rak-rak berisi kimono, handuk, dan sandal. Di sebelah rak-rak itu, ada sebuah ruangan yang luasnya sedang. Isinya, sofa dan layar monitor ukuran sedang. Ruang itu adalah ruang karaoke.

Maju sedikit, sekitar 10 meter, ada ruangan semi outdoor yang dinaungi atap semi transparan. Sinar matahari tipis menembus atap itu.

Di sana, ada 7 jejeran kursi yang biasa digunakan untuk berjemur di pantai. Di seberangnya, ada gazebo yang dilengkapi 9 kasur matras dan bantal warna-warni. Antara satu kasur matras dengan yang lainnya, disekat tirai-tirai tipis. Di tengah-tegah kursi dan kasur itu, ada kolam ikan kecil yang diisi belasan ikan koi warna merah-putih.

Sebelah kanannya, ada tiga kolam "cetek", yang dalamnya hanya sekitar 50 cm. Dua berukuran kecil, dan satu berukuran besar.

Di ujung kolam terlihat ada semacam tempat kecil untuk memainkan musik digital. Pengeras suara alias speaker, juga diletakkan di keempat sudut ruangan.

Di depan kolam cetek itu, ada penanda tempat "Bathhouse Spa & Lounge". Ada beberapa panduan yang ditulis di bawah penanda tempat itu. Di sebelahnya, ada lorong menuju tangga yang membawa pengunjung ke kamar-kamar.

Saat wartawan melongok ke sana, pintu-pintu kamar itu sudah dibuka. Ada dua tipe kamar yang "dipertontonkan" kepada wartawan. Satu kamar, bernomor 712, berukuran besar. Ada bathtube alias bak mandi yang hanya ditutupi tirai. Tak ada pembatas antara bathtube itu dengan kasur ukuran "king size" yang berada di sebelahnya. Di depan kasur itu, terpampang televisi layar datar ukuran besar.

Yang menarik, di sebelah cermin dekat kasur, tertempel tulisan berbunyi "Dilarang Melakukan Perbuatan Asusila". "Ini bukti kalau kita melarang perbuatan itu, meski saya enggak bisa jamin," ujar Fajri.

Selain itu, pintu kamar juga dilengkapi kaca kecil yang memungkinkan untuk mengawasi kegiatan di dalam kamar. "Itu pintu kaca, kami terbuka, supaya mereka tidak berbuat asusila di dalam," tuturnya.

Sementara tipe kamar yang lain tak jauh berbeda, hanya lebih kecil ukurannya dan tidak dilengkapi bathtube. "Semua kamar sama, ada 26 kamar semuanya," tutur Fajri. Untuk menyewa kamar ini, pengunjung harus merogoh kocek Rp 400 ribu per jamnya. Satu jam wartawan dipersilakan melihat-lihat dan mengambil gambar "lantai legendaris itu". Setelah itu, konferensi pers ditutup dengan sebungkus Nasi Padang berlauk dendeng dan telur. ***

Komentar Pembaca
JK, Peng-Peng Di Balik Impor Beras

JK, Peng-Peng Di Balik Impor Beras

, 19 JANUARI 2018 , 21:00:00

Sri Mulyani Bikin Indonesia Rugi Ratusan Triliun
Pertemuan Sahabat Lama Setelah 10 Tahun

Pertemuan Sahabat Lama Setelah 10 Tahun

, 18 JANUARI 2018 , 16:05:00

Desak Bamsoet Mundur

Desak Bamsoet Mundur

, 18 JANUARI 2018 , 21:29:00

Pelantikan KSAU Baru

Pelantikan KSAU Baru

, 18 JANUARI 2018 , 01:04:00