Hanura

Stok Beras Stabil, Kenapa Harus Impor?

 JUM'AT, 12 JANUARI 2018 , 20:25:00 WIB | LAPORAN: ELITHA TARIGAN

RMOL. Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita menjilat ludah sendiri. 9 Januari 2018 dia janji tahun ini tidak akan ada impor beras. Tapi hari ini menteri asal Partai Nasdem itu mendatangkan 500 ribu ton beras dari Thailand dan Vietnam.
Beras masuk tanah air akhir Januari nanti.

Diantara yang heran dengan sikap Enggar adalah akademisi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prima Gandhi. Bila ingin mengendalikan harga beras di pasaran, mengapa justru Kemendag hanya mengimpor beras khusus. Padahal beras yang naik di pasaran justru hanya kategori medium.

"Impor beras sudah telat, karena bertepatan dengan mulai panen raya padi," ujarnya di Bogor, Jumat (12/1).

Prima melakukan riset kenaikan harga beras. Dari data online beras yang dirilis oleh Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) tertanggal 3 Januari 2018 diketahui kisaran beras masih seharga Rp 7.800 per kilo untuk jenis IR-64III. Harga tersebut cenderung stabil sejak 9 November 2017 hingga 3 Januari 2018.

Namun Gandhi mengaku terkejut saat mendapat kabar harga beras melonjak ke angka Rp 8.400 pada 3 dan 4 Januari 2018 lalu. Harganya pun terus naik hingga mencapai angka Rp 8.900.

"Setelah itu pada 5-8 Januari  menjadi 8.800, terus tanggal 9-12 Januari menjadi 8.900 per kilogram," kata Gandhi.

Tak sekedar harga, Gandhi juga mengaku memeriksa data stok beras harian PIBC di masa tersebut. Dan ternyata jumlahnya pun cenderung normal yakni berkisar antara 32.001-47.013 ton. Ia heran karena harga beras bisa naik saat stok sangat mencukupi.

"Harusnya solusi yang ditempuh ya pengendalian harga, bukan impor," ungkapnya.

Untuk itu, Gandhi mengusulkan agar harga beras medium dikendalikan dengan cara mengadakan operasi pasar besar-besaran. Selain itu Ia mengimbau agar percepatan penyaluran beras kategor Rastra di bulan Januari ini segera dilakukan.

"Ketiga perlancar arus distribusi dan logistik beras dengan intensifkan Satgas Pangan. Keempat, tidak perlu impor karena momentumnya tidak tepat," tegasnya.

Lebih lanjut Gandhi menegaskan selama ini tidak pernah terjadi impor di saat memasuki panen raya Februari. Bila impor sekarang ini dampaknya hanya memukul petani menderita.  

"Saya yakin produksi surplus, tidak perlu impor. Pernyataan mana panen, mana panen tidak perlu dipertentangkan lagi.  Lha itu ada data panen di sini, di website http://sig.pertanian.go.id ini open akses," tuturnya.

"Bisa dilihat semua detil sampai titik koordinat lokasi sebaran panen padi di seluruh Indonesia," imbuhnya Gandhi.

Kemudian, Gandhi menegaskan tahun ini memasuki tahun politik 2018-2019. Jadi, seharusnya pemerintah tidak membuat gaduh kondusifitas yang sudah diciptakan selama ini.

"Jangan sampai beras dijadikan komoditas politik oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab," pungkasnya.[dem]

Komentar Pembaca
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Foto Skuad Cendana

Foto Skuad Cendana

, 15 JUNI 2018 , 18:53:00

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

, 15 JUNI 2018 , 13:04:00

Kebersamaan Di Hari Raya

Kebersamaan Di Hari Raya

, 15 JUNI 2018 , 08:43:00