Daripada Ditenggelamkan, Kasih Kapal Pencuri Ikan Ke Nelayan

 SABTU, 13 JANUARI 2018 , 02:53:00 WIB | LAPORAN: UJANG SUNDA

Daripada Ditenggelamkan, Kasih Kapal Pencuri Ikan Ke Nelayan

Foto/Net

RMOL. Ketua Fraksi Golkar Robert J Kardinal ikut angkat bicara mengenai polemik penenggelaman kapal pencuri ikan yang dilakukan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti.
Robert sependapat dengan Menko Kemaritiman Luhut Pandjaitan agar penenggelaman itu dihentikan. Sebagai gantinya, kapal-kapal pencuri ikan itu diserahkan ke nelayan kecil.

Robert setuju jika para pencuri ikan di laut Indonesia harus ditindak tegas. Kapal-kapal mereka harus disita, agar jera. Tapi, bukan berarti semua kapal pencuri ikan yang sudah disita itu harus diledakkan. Akan lebih bermanfaat manfaat jika kapal-kapal itu dibagikan ke para nelayan.

"Walau secara hukum penenggelaman kapal sitaan itu dibenarkan, apa sih salahnya kalau diberikan kepada nelayan. Kan sebenarnya efek hukumnya sama. Hak kepemilikan kapal hilang. Tinggal disikapi lebih bijak, lebih baik yang mana, apakah ditenggelamkan atau dihibahkan kepada nelayan," usul Robert saat dihubungi, Jumat (12/1).

Menurut politisi asal Papua Barat ini, kehidupan nelayan saat ini sedang terhimpit. Kemampuan tangkap dan daya jelajah nelayan dalam mencari ikan sangat terbatas. Kondisi ini terjadi karena kapal yang digunakan nelayan kebanyakan masih di bawah 10 gross tonnage (GT).

Jika mereka diberi kapal-kapal hasil rampasan dari para pencuri ikan, tentu daya jelajahnya akan lebih jauh dan hasil tangkapannya akan lebih banyak.

"Penegakan hukum kepada para pelaku ilegal fishing sudah cukup berhasil. Sekarang yang penting bagaimana kebijakan itu menyejahterakan nelayan. KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan) didirikan kan bukan hanya tindak ilegal fishing, tapi tingkatkan taraf hidup nelayan. Yang susah kan nelayan. Jadi, sekarang sudah harus dipikirkan," ujarnya.

Robert menambahkan kebijakan Pemerintah di sektor maritim belum sepenuhnya mendongkrak kehidupan para nelayan dan masyarakat pesisir. Buktinya, Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP) untuk sektor ini belum terlalu menonjol. Ekspor juga menurun. Padahal, dua pertiga luas wilayah Indonesia adalah laut.

Dengan kapal-kapal besar hasil rampasan dari para pencuri ikan, dia yakin hasil tangkapan nelayan akan lebih baik. Alhasil, kesejahteraan mereka juga meningkat. Di sisi lain, negara juga akan untung. Sebab, hasil tangkapan yang baik bisa meningkatkan ekspor.

"Kalau ekspor perikanan kita naik, kan bagus. Laut kita kan lebih besar daripada daratan kita. Tapi kok masyarakat nelayan dan pesisir kita susah. Lihat saja, ada enggak nelayan kita yang kaya raya. Yang kaya ini kan pedagang. Kalau nelayan kita ya gitu-gitu saja," ujarnya.

Di sisi lain, Robert mendorong Pemerintah agar lebih memperbanyak lagi koperasi-koperasi bagi nelayan. Kemudian, pabrik-pabrik pengolahan ikan harus dibangun. Bantuan kapal dan alat tangkap yang sudah berjalan selama ini untuk lebih diefektifkan lagi.

Robert juga mendorong agar Pemerintah memberikan keringanan kredit dengan bunga yang sangat rendah kepada nelayan.

Dia mengingatkan, kehidupan nelayan ini sangat berisiko. Tidak sama dengan kehidupan dari sektor pertanian atau perkebunan yang secara hitung-hitungan keuntungannya sudah bisa terukur.

"Nelayan ini sangat berisiko. Orang melaut ini kan belum tentu dapat ikan, belum lagi kalau minyak atau makananya habis di laut. Jadi, kehidupan nelayan ini sangat menderita. Harus hadapi panas, ombak yang tinggi, dan cuaca yang tak menentu. Mereka ini kan berjudi kalau melaut. Untuk itu, harus dipikirkan akses bank bagi nelayan. Mereka harus diberi keringanan," tutup Robert. [nes]

Komentar Pembaca
JK, Peng-Peng Di Balik Impor Beras

JK, Peng-Peng Di Balik Impor Beras

, 19 JANUARI 2018 , 21:00:00

Sri Mulyani Bikin Indonesia Rugi Ratusan Triliun
Pertemuan Sahabat Lama Setelah 10 Tahun

Pertemuan Sahabat Lama Setelah 10 Tahun

, 18 JANUARI 2018 , 16:05:00

Desak Bamsoet Mundur

Desak Bamsoet Mundur

, 18 JANUARI 2018 , 21:29:00

Pelantikan KSAU Baru

Pelantikan KSAU Baru

, 18 JANUARI 2018 , 01:04:00