Hanura

Panggung Politik

Sama-sama Empat Calon Kini Rasanya Sangat Beda

Pertarungan Di Nusa Tenggara Barat

 SELASA, 23 JANUARI 2018 , 12:17:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Sama-sama Empat Calon Kini Rasanya Sangat Beda

Bambang M Finarwanto/Net

KONTESTASI Pilgub NTB 2018 akan lebih seru ketimbang sebelumnya. Meski sama-sama ada empat calon, namun Pilkada NTB tahun ini akan jadi ajang adu gengsi antara paslon yang diusung parpol dengan paslon perseorangan, yang memilih jalur independen.
Adalah Ali Bin Dahlan, Bupati Lombok Timur yang memilih jalur perseorangan dengan menggandeng Lalu Gede Sakti. Keduanya digadang-gadang akan jadi saingan kuat dari ketiga paslon yang diusung parpol.

Ali, merupakan calon tertua dari para paslon yang akan berlaga dalam Pilkada NTB tahun ini. Dia dipasangkan dengan Gede Sakti yang merupakan kader Nahdlatul Wathan (NW) Anjani, organisasi Kemasyarakatan Islam terbesar di pulau Lombok, NTB. Dukungan dari NW Anjani ini membuat Ali cukup pede maju lewat jalur independen.

Meski Ali-Gede sama-sama berasal dari Pulau Lombok, namun keduanya masih bisa meraup suara dari Pulau Sumbawa. Mengingat, Ali punya jaringan dari Bank Perkreditan Rakyat (BPR) bernama Segara Anak Kencana dan Bank Samawa Kencana (BSK). BSK banyak membantu pembangunan ekonomi masyarakat NTB. Bank ini juga aktif menjalankan Syariat Islam, diantaranya melalui momen Peringatan Hari Besar Islam baik di Lombok dan juga Sumbawa.

Sementara Gede, meski pernah kalah dalam Pilbup Lombok Tengah melawan Suhaili (yang juga maju dalam Pilkada kali ini), namun dia diyakini masih punya pendukung setia di sana. Pilkada ini akan jadi indikator kekuatan parpol di NTB. Jika calon dari parpol menang, berarti mesin parpol berjalan di basis pemilih. Sebaliknya, jika kalah, artinya mesin parpol macet di akar rumput.

Yang menarik untuk dicermati lagi adalah "keberanian" pasangan Zulkieflimansah- Sitti Rohmi Djalilah menantang tiga calon lain yang pernah memiliki pengalaman memenangkan pilkada, meski dalam tingkat kabupaten/kota. Ketiganya adalah Ahyar Abduh, Bupati Lombok Tengah Suhaili, dan Bupati Lombok Timur Ali Bin Dahlan.

Sebagai pendatang baru di Pilgub NTB, wajar jika Zul-Rohmi diprediksi sulit memenangkan Pilgub ini. Tapi bisa saja ada kejutan. Soalnya, belakangan, dalam beberapa survei, tren pergerakan elektabilitas pasangan yang diusung PKS dan Partai Demokrat itu naik secara signifikan. Keduanya bisa jadi kuda troya.

Ini tak lepas dari manuver tim pemenangan mereka yang jor-joran memperkenalkan paslon ini. Misalnya, dengan pemasangan baliho di nyaris seluruh penjuru NTB. Sosok Zul sendiri tak terlalu populer di NTB, meski duduk sebagai anggota DPR. Zul juga berasal dari pulau Sumbawa. Biasanya, calon dari Sumbawa hanya berani maju sebagai "orang nomor dua" alias lantaran kalah pamor dengan wilayah Lombok yang dianggap "kelas 1".

Ini bisa menjadi keunggulan bagi Zul. Sebab, dia bisa dianggap berani tampil melawan kelaziman mindset pola pikir konvensional itu. Kreator politik dibalik tampilnya Zul, ingin memberikan pesan bahwa di era politik milenial ini meraih dukungan konstituen tak harus berdasarkan fatsun politik identitas. Tapi bagaimana konstituen bisa diedukasi dan dipenetrasi secara efektif lewat strategi dan taktik yang benar.

Keunggulan lain dari Zul, dia dianggap mendapat dukungan Gubernur NTB saat ini, Muhammad Zainul Majdi yang lebih tenar dengan julukan Tuan Guru Bajang (TGB) lantaran menggandeng Rohmi, yang merupakan kakak kandung TGB.

Pasangan Zul-Rohmi sudah diidentikkan sebagai eksperimen politik TGB supaya tongkat estafet kepemimpinan politik NW tetap terjaga. Ini nawaitu politik sesungguhnya di balik munculnya paket Zul-Rohmi.

Sebagai king maker yang andal, TGB tentu berharap Zul-Rohmi bisa memenangkan Pilgub NTB apapun konsekuensinya. TGB juga memiliki kalkulasi politik yang cerdas untuk mengatasi para jawara petarung politik itu.

Tapi, nama besar TGB juga bukan jaminan. Buktinya, dalam Pilbup Lombok Timur di Pilkada 2013, Syamsul Luthfi, saudara kandung TGB kalah dengan Ali Bin Dahlan.

Yang jelas, dengan adanya Rohmi, suara Lombok Timur dipastikan pecah berkeping-keping. Sebab, selain Gede Sakti yang didukung dua kubu NW; Ahyar Abduh, Suhaili, dan Zulkifli Muhadli juga punya pendukung di Kabupaten dengan jumlah pemilih terbanyak tersebut.

Sementara dua pasangan lain, Ahyar-Mori dan Suhaili-Amin, mencerminkan kekuatan politik yang sesungguhnya. Mereka memiliki dukungan afiliasi politik yang berimbang. Ahyar-Mori didukung Gerindra dan PDIP. Sementara Suhaili-Amin didukung Golkar, PKB, dan Nasdem.

Selain itu, kedua pasangan itu punya pengalaman yang sama, yakni memenangkan pilkada dua kali di wilayahnya. Ahyar Abduh merupakan langganan pemenang pilkada di Mataram mulai dari sebagai calon wakil wali kota hingga menjadi walikota dua periode.

Pasangan Ahyar, Mori yang Wakil Ketua DPRD NTB dari Gerindra, namanya tak sepopuler calon lain di NTB. Namun, Mori, yang berasal dari Bima, punya keunggulan karena dianggap representasi anak muda.

Sekalipun punya peluang besar, paslon ini belum optimal dalam menggarap suara di tingkat basis, khususnya di Pulau Sumbawa. Mereka juga belum menggerakkan mesin parpol pengusungnya. Sebab, pascadeklarasi, Ahyar-Mori ini cenderung cooling down. Padahal paslon lain giat bergerak ke setiap basis basis pemilih potensial.

Sedang Suhaili, kini masih menjabat sebagai Bupati Lombok Tengah. Ketua DPD Golkar NTB ini tentu saja memiliki basis pendukung di Lombok Tengah.

Suhaili kurang dikenal di Sumbawa. Namun, digandengnya Muhammad Amin diharapkan dapat menggenjot suara dari Pulau Madu itu. Amin, yang kini menjabat Wakil Gubernur NTB, merupakan warga asli Pulau Sumbawa.

Selain soal wilayah, jam terbang Amin sebagai politisi, sudah teruji. Sebagai Wagub NTB, Amin cukup populer lantaran sering turun di tengah masyarakat. Ini keunggulannya. Keunggulan lain, sebagai Ketua DPW Nasdem, Amin akan mendapat dukungan penuh dari sisi pemberitaan media yang dimiliki oleh bos Nasdem, Surya Paloh.

Sekalipun begitu, dari berbagai survei yang digelar didapat kesimpulan, belum ada satu pun paslon yang memiliki tingkat elektabilitas di atas 20 persen. Kisarannya masih di angka 7 persen hingga 16 persen dengan persentase swing voter yang masih tinggi. Swing voter inilah yang akan jadi rebutan. [***]

Bambang M Finarwanto
Direktur Lembaga Kajian Sosial Dan Politik M16 Mataram


Komentar Pembaca
Stop Permanen Piala Presiden!

Stop Permanen Piala Presiden!

, 19 FEBRUARI 2018 , 15:00:00

Anies VS Jokowi Dalam Piala Presiden

Anies VS Jokowi Dalam Piala Presiden

, 19 FEBRUARI 2018 , 13:00:00

Tumpeng Golkar Untuk OSO

Tumpeng Golkar Untuk OSO

, 13 FEBRUARI 2018 , 17:33:00

SBY Lantik AHY

SBY Lantik AHY

, 18 FEBRUARI 2018 , 00:31:00

Yang Lolos Dan Tak Lolos

Yang Lolos Dan Tak Lolos

, 18 FEBRUARI 2018 , 01:23:00