Hanura

DPR Dukung Peralihan Konsumsi BBM Oktan Rendah

 KAMIS, 08 MARET 2018 , 16:07:00 WIB | LAPORAN: SAMRUT LELLOLSIMA

DPR Dukung Peralihan Konsumsi BBM Oktan Rendah
RMOL. Kalangan dewan mengapresiasi dan mendukung penurunan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dengan oktan rendah di masyarakat.
Anggota Komisi IX DPR RI Okky Asokawati menjelaskan, tren tersebut menunjukkan kesadaran masyarakat yang semakin meningkat terhadap kesehatan.

"Saya bersyukur karena masyarakat sudah semakin cerdas. Mereka sadar akan bahaya Premium terhadap kesehatan, karena bisa menyebabkan kanker," kata Okky di Jakarta, Kamis (8/3).

Menurut dia, komisinya yang konsen dalam kesehatan terus mendukung sikap masyarakat yang mulai beralih menggunakan BBM dengan oktan yang lebih tinggi, seperti Pertalite dan Pertamax.

"Pergeseran konsumsi menuju BBM yang memiliki harga lebih tinggi, tentu disebabkan faktor manusia. Ini adalah indikasi bahwa masyarakat sudah pintar mengedukasi diri sendiri," lanjutnya.

Terlepas dari itu, Okky justru mempertanyakan sikap Pemerintah, dalam hal ini Badan Pengatur Hilir Migas dan Gas Bumi (BP Migas). Pemerintah, lanjut Okky, harusnya lebih peka bahwa penyebab berkurangnya konsumsi Premium di berbagai derah, termasuk Riau dan Lampung, disebabkan karena permintaan yang sangat menurun.

Apalagi, mekanisme pasar, kata Okky, banyaknya supply tentu tergantung dari demand.

“Pemerintah tidak peka. Kalau sudah ada penelitian bahwa emisi Premium bisa menyebabkan kanker dan demand juga sudah menurun, harusnya mereka memberi apresiasi. Makanya harus dipertanyakan, mengapa Pemerintah seolah-olah menginginkan Premium terus beredar luas? Apakah mereka tidak peduli dengan bahaya kanker di masyarakat?” tanya Okky.

Sebelumnya, Universitas Indonesia (UI) dan Komite Penghapusan Bensi Bertimbal (KPBB) memang melakukan penelitian terkait bahaya emisi BBM oktan rendah. Hasilnya, rata-rata air seni masyarakat Jakarta mengandung polysiclic aromatic hydrocarbons (PAH) dan benzene yang sangat tinggi, melebihi batas standar World Health Organization (WHO). Hasil tersebut menunjukkan, bahwa emisi Premium memang menyebabkan penyakit mematikan, kanker.

Tren penggunaan BBM oktan tinggi, antara lain bisa diamati di berbagai SPBU di Riau dan Lampung. Meski Premium juga tersedia, namun tidak menyurutkan minat konsumen untuk membeli BBM dengan oktan lebih tinggi.

Di Pekanbaru, misalnya, kondisi tersebut bisa ditemui di SPBU Jl. Dahlia, SPBU Sidomulyo Timur, SPBU Lintas Timur Sumatera dan sebagainya. Sedangkan di Bandar Lampung, kondisi yang sama bisa ditemui antara lain di SPBU Jl. Pattimura, SPBU Jl. Pangeran Antasari, SPBU Jl. Sultan Agung, SPBU Jl. Pramuka, dan sebagainya. Tidak ada kelangkaan Premium, namun BBM oktan tinggi tetap diserbu pembeli. [rus]

Komentar Pembaca
Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

Aman Abdurrahman Divonis Hukuman Mati

, 22 JUNI 2018 , 11:00:00

Rachmawati: Ada Deal Politik Di SP3 Kasus Sukma
Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

Laporkan Penganiayaan Oleh Dewan PDIP

, 21 JUNI 2018 , 14:53:00

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

Jenguk Abuya Saifuddin Amsir

, 20 JUNI 2018 , 18:51:00

Antre Di Tol Fungsional

Antre Di Tol Fungsional

, 19 JUNI 2018 , 06:58:00