Hanura

Budayawan: Orang Indonesia Masih Mudah Kaget

 MINGGU, 15 APRIL 2018 , 06:53:00 WIB | LAPORAN: WIDYA VICTORIA

Budayawan: Orang Indonesia Masih Mudah Kaget

Ngatawi Al-Zastrow/Humas BNPT

RMOL. Agama dan budaya yang ada di Indonesia jika dilihat dari konteks Islam yang berkembang dan hidup di nusantara ini telah menjadi hubungan simbiosis.
Agar orang paham terhadap agama maka dibutuhkan metode ataupun alat supaya agama itu bisa dipahami orang.

"Dalam konteks ke-nusantaraan yang ada di Indonesia, budaya, tradisi dan seni itu menjadi alat untuk menyampaikan ajaran-ajaran agama," ujar budayawan, Ngatawi Al-Zastrow atau yang biasa disapa Sastro di Jakarta.
 
Sastro menjelaskan, beberapa hal yang perlu dicatat mengapa di nusantara ini agama dan budaya atau budaya dan tradisi menjadi alat atau metode dalam penyampaian agama.

"Pertama,  supaya agama lebih mudah dipahami. Karena kalau pesan-pesan agama disampaikan dengan  cara-cara Timur Tengah tentunya akan ada kesenjangan budaya. Sehingga akan kesulitan untuk memahami dan menerima pesan-pesan agama itu kalau metode Arab itu yang dipakai," urainya.

Oleh karena itu sejak zaman Walisongo digunakanlah metode atau tradisi nilai-nilai kultur orang lokal nusantara ini sebagai alat siar. Dan itu terbukti ampuh, sehingga dalam waktu kurang dari 50 tahun, Walisongo mampu meng-Islam-kan masyarakat nusantara dari yang semula 90 persen Hindu-Budha berbalik menjadi 90 persen Islam.

"Padahal selama delapan abad Islam sendiri tidak  berkembang di bumi Nusantara ini. Kalau data sejarah menunjukkan abad ke-8 Sebelum Masehi (SM), Islam sudah masuk di bumi nusantara Indonesia ini melalui berbagai pintu, baik dari pintu Aceh,  pintu Jawa dan pintu macam-macam," ujarnya.

Tapi pada kenyataaanya Islam sendiri baru berkembang pada abad ke-15 di jaman Majapahit yang artinya ada masa kevakuman dari abad ke-8 sampai abad 15 SM. Kevakuman itulah yang kemudian dikoreksi oleh para wali dan ternyata ada kesalahan dalam menyampaikan pesan.

"Akhirnya disampaikan dengan bahasa, cara, budaya, tradisi yang berkembang di masyarakat, baru Islam itu bisa masuk. Dengan cara yang disampaikan para Wali itulah akhirnya melahirkan tembang, gending, syair, babat, serat, sastra dan sebagainya itu,"  kata mantan  Ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia (Lesbumi) PBNU ini.

Lalu yang kedua digunakannya kebudayaan sebagai metode atau alat dalam menyampaikan ajaran Islam. Tujuannya agar wajah Islam menjadi menyenangkan dan kompatibel dengan tradisi lokal yang berkembang di masyarakat.

"Sebab ada kesenjangan budaya kesannya kalau kita langsung pakai cara-cara metode Arab itu orang menjadi defence culture. Kesenjangan kultural inilah yang menyebabkan akhirnya ada defence culture. Nah untuk mengatasi adanya defence culture itu maka inilah kebudayaan yang menjadi wasilah," terang mantan asisten pribadi Presiden ke-4 RI, Alm. KH. Abdulrahman Wahid (Gus Dur) ini.

Dengan cara-cara inilah menurutnya Islam ini menjadi lebih kreatif. Tanpa mengubah ajaran yang baku, ekspresinya menjadi lebih bisa beragam dan menunjukkan Islam itu kebenarannya akan tetap abadi di setiap tempat dan waktu.

Menurutnya, dengan Islam yang seperti ini maka orang menjadi tidak mudah marah.

Terkait dengan puisinya Sukmawati yang bikin heboh, menurutnya ini mengindikasikan bahwa taraf keberagamaan masyarakat Indonesia cenderung masih bersifat legal formalistik, masih menjadi orang yang mudah kaget. Padahal sebetulnya puisi itu adalah otokritik yang dapat menjadi bahan refleksi bagi masyarakat semuanya.

"Misalnya ketika Mbak Sukma mengatakan bahwa ‘Kidung ibu lebih indah daripada azanmu’. Nahmu’  ini tujuannya kemana? ‘mu’ ini kalau tujuannya kepada orang yang azan itu yang kadang suaranya sember, suaranya tak beraturan, kadang juga asal teriak atau asal bunyi. Secara jujur dan estetik misalnya dibanding dengan kidung kidung yang merdu, yang berirama, menyentuh hati secara faktual memang seperti itu," ujar alumni IAIN Sunan Kalijaga Jogjakarta ini.

Kondisi seperti ini menurutnya sudah diantisipasi oleh para wali pada zaman dahulu ketika Sunan Kalijaga mentransformasikan ayat-ayat Allah menggunakan seni, budaya dan tradisi.
 
"Akhirnya dengan cara seperti itu justru Islam bisa diterima oleh semua orang,  dibanding dengan orang-orang yang berteriak-teriak tapi suaranya nggak jelas meskipun itu suara yang mengandung kebaikan. Ini faktual, harus dibedakan antara pesan agama, ajaran agama dengan metode, cara atau alat menyampaikan pesan," ujarnya.
 
Karena azan itu adalah bagian dari ritual agama dalam memanggil orang untuk melaksanakan salat. Karena suara azan itu suara sakral, suara suci dan ritual agama, maka mestinya harus disampaikan dengan suara yang indah.

"Nah kalau langgam kalah dengan kidung akhirnya dia menjadi bahan ketawaan orang dan bahan ejekan orang. Ketika ada orang ada yang merasakan seperti itu ya kita jangan marah, mestinya kita instropeksi lain kali kalau azan suara atau langgamnya harus yang bagus, merdu," ujanrya

Pria kelahiran  Pati, 27 Agustus 1966 ini mencontohkan Sunan Kalijaga dulu ketika membangunkan orang untuk salat Tahajud tidak langsung mengutip ayat-ayat dalam kitab suci melainkan ditransformasikan menjadi kidung Rumekso Ing Wengi.

"Itu adalah contoh Sunan Kalijaga mencoba memperindah, mempercantik supaya pesan-pesan agama ini lebih mudah, gampang dan lebih enak diterima oleh para penyampai pesan. Karena itu sesuai dengan kondisi psikologis, kondisi kultural, kondisi tradisional masyarakat. Jadi marilah kita sama-sama mencoba untuk menghayati sejarah itu di muka bumi Indonesia ini," ujanrya mengakhiri.
 

Komentar Pembaca
Negara Merugi, Jokowi Ikut Menikmati?

Negara Merugi, Jokowi Ikut Menikmati?

, 16 JULI 2018 , 15:00:00

Solusi RR Soal Dana Parpol Bernas!

Solusi RR Soal Dana Parpol Bernas!

, 16 JULI 2018 , 13:00:00

Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

Istana Kaget Airlangga Bertemu SBY

, 11 JULI 2018 , 19:24:00

Bunga Untuk Hakim

Bunga Untuk Hakim

, 12 JULI 2018 , 14:22:00

JK Jadi Saksi

JK Jadi Saksi

, 12 JULI 2018 , 00:26:00