Hanura

Salat Politik

 MINGGU, 03 JUNI 2018 , 04:22:00 WIB

Salat Politik

Foto/Net

TELAH beredar foto salat berjammah selaku Imam Besar Habib Rizieq Shahab dan di belakangnya tampak khusyuk Pak Amien Rais dan Pak Prabowo Subianto sebagai makmum.
Tentu salat berjamaah itu punya makna yang begitu mendalam. Terlebih di tengah situasi negeri yang dianggap kurang menguntungkan bagi pribumi.

Tak pelak, salat jamaah itu punya kesempurnaan yang luar biasa karena mengandung pesan politik nilai yang ingin menyelamatkan bangsa dari upaya penjajahan sekelompok etnis non pribumi.

Selain itu, salat berjamaah yang dilaksanakan di Kota Suci Mekkah dan bulan suci Ramadhan membuktikan bahwa politik bukan tabu karena yang diperjuangkan adalah politik nilai dalam rangka menjaga keutuhan bangsa muslim terbesar dunia, bukan politik kepentingan jangka pendek.

Dalam Islam begitu transparan bahwa ibadah dipahami sebagai politik. Ada Salat Jumat yang dua khutbahnya menggantikan dua rakaat, salat wajib Dzuhur sehingga Salat Jumat cukup dua rakaat saja. Dalam dua kali khutbah Jumat juga diwajibkan membahas takwa dan iman berikut situasi sosial dan politik.

Di sejumlah negara tertentu bahkan khutbah Jumat dijadikan ajang meluruskan informasi dan menuntun masyarakat untuk menyikap situasi sosial dan politik. Lebih dari itu, khutbah Jumat yang juga bagian dari salat, dijadikan ajang konsolidasi ummat sehingga tidak mudah terkecoh makar musuh-musuh Islam.

Selain Salat Jumat ada juga Salat Ied yang berlaku pada Hari Besar Idul Fitri dan Hari Besar Idul Adha. Kedua salat itu hukumnya wajib. Yang menariknya, dua Salat Ied itu dianjurkan dilaksanakan di lapangan besar.

Mengapa harus lapangan besar bukan masjid dan mushola-mushola? Lagi-lagi ada unsur politik. Salat Ied sengaja dianjurkan di lapangan besar karena dari situlah kekuatan demokrasi umat terukur. Tanpa ada paksaan, umat Islam dengan ikhlas dan tulus memadati lapangan dan memekikkan takbir berikut hamdalah sebagai puji syukur atas nikmat Ilahi.

Bahkan ada yang menyebut dua Salat Ied di lapangan besar sebagai referendum umat. Salat Idul Adha dan Idul Fitri sangat sarat politik. Tidak sebatas itu, tapi Salat Ied juga terkandung dua khotbah yang punya nilai seperti Salat Jumat yang isinya mengevaluasi kondisi sosial dan politik. Dengan demikian bisa dipahami bahwa Islam tidak mungkin terlepas dari politik.

Lebih dari itu, ummat Islam juga dianjurkan salat berjamaah dalam salat lima waktu. Tentu salat berjamaah sarat aspek sosial yang berfungsi menjaga persatuan dan kebersamaan ummat.

Dalam Islam salat jamaah punya pahala yang berkali-kali lipat. Sangatlah wajar bila dipahami bahwa politik itu ibadah dan begitu juga sebaliknya bahwa ibadah itu politik. Sangat gamblang sekali bahwa politik dan Islam sama sekali tidak berjarak.

Alireza Alatas
Pembela Ulama dan NKRI, Aktivis Silaturahmi Anak Bangsa Nusantara (SILABNA)



Komentar Pembaca
Indonesia Bukan Antek Beijing dan AS!

Indonesia Bukan Antek Beijing dan AS!

, 18 JUNI 2018 , 09:00:00

Said Aqil: Staquf Ke Israel Bukan Agenda NU!
Foto Skuad Cendana

Foto Skuad Cendana

, 15 JUNI 2018 , 18:53:00

Yahya Staquf Berbicara Di Israel

Yahya Staquf Berbicara Di Israel

, 11 JUNI 2018 , 20:21:00

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

Selamat Lebaran Dari Sudrajat

, 15 JUNI 2018 , 13:04:00