Hanura

Tjahjo Sesalkan Puisi Politik Fadli Zon

 SELASA, 05 SEPTEMBER 2017 , 05:50:00 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Tjahjo Sesalkan Puisi Politik Fadli Zon

Tjahjo Kumolo/Net

RMOL. Menteri Dalam Negeri RI Tjahjo Kumolo menyesalkan puisi politik yang dibuat oleh Wakil Ketua DPR RI Fadli Zon yang berjudul "kaos dan sepeda".

Meski tidak menyebut nama, namun dalam bait puisi tersebut penuh dengan sindiran terhadap pemerintahan Jokowi-JK.

Jika puisi tersebut ditujukan kepada Presiden Jokowi, Tjahjo balik bertanya, apa tidak boleh Presiden dekat dengan rakyat, bersentuhan, berjabat tangan dan berdialog mendengar aspirasi.

"Memberikan tanda mata kepada rakyat kok dikritik," sebut Tjahjo kepada wartawan di kantornya, Jakarta, Senin (4/9).

Menurut politisi PDIP ini, setiap orang mulai dari anggota DPR sampai Presiden berhak untuk dekat dengan masyarakat dimanapun dan kapanpun.

"Yang terhormat Saudara Fadli Zon, sah-sah saja mengkritik kebijakan pemerintah yang menurutnya tidak sesuai dalam fungsi pengawasannya sebagai angggota DPR," ujarnya.

Tapi, lanjut Tjahjo, ia merasa aneh ketika Fadli justru mengkritisi Presiden yang dekat dengan rakyat.

"Atau memang saya kurang paham dengan bahasa puisi," ungkapnya.

Wakil Ketua DPR asal Partai Gerindra Fadli Zon membuat puisi yang berjudul "kaos dan sepeda". Puisi tersebut ia buat saat melakukan kunjungan kerja ke Yerven, Armenia, Minggu (3/9) lalu.

Berikut puisi politik Fadli Zon tersebut:

Kaos dan Sepeda

dimanakah kesejahteraan?
ketika ekonomi susah
lapangan kerja makin punah
kesenjangan kaya miskin mewabah
kau lempar kaos di jalanan
keluar dari mobil kebesaran jas lengkap penuh pengawalan
kaos berhamburan jadi rebutan
inikah jalan menuju kemakmuran?

kemanakah kesejahteraan?
ketika utang terus bertambah
daya beli rakyat makin lemah
harga kebutuhan pokok meroket tajam
kau buat sepeda jadi hiburan
kuis pertanyaan asal-asalan hadiah sepeda bertaburan
inikah jalan menuju kemakmuran?

seperti apakah kesejahteraan?
ketika kaos dan sepeda selalu ada dalam berita
dari soal ikan tongkol sampai Raisa
inilah cerita negara keempat terbesar di dunia
tak ada derita apalagi sengsara
karena dibunuh statistik angka-angka dan media digenggam kuasa

aku bayangkan Bung Karno dan Bung Hatta
pikiran-pikiran besar merekat Indonesia
narasi menyatukan tanah pusaka
pidato dan tulisan heroik penuh makna
perdebatan menyelami substansi wacana
teladan kepemimpinan luar biasa
mereka tak bagi kaos dan sepeda
kaos dan sepeda bukan sekadar tanda mata

ini ironi zaman penuh dagelan
menjadikan kita bahan lawakan
.
[rus]

Komentar Pembaca
BENANG MERAH (EPS.162): Pilpres Atau Adu Jangkrik?
Grace Natalie Dilaporkan Ke Bareskrim Polri

Grace Natalie Dilaporkan Ke Bareskrim Polri

, 16 NOVEMBER 2018 , 15:00:00

Kompetisi Peradilan Semu Anti Korupsi

Kompetisi Peradilan Semu Anti Korupsi

, 16 NOVEMBER 2018 , 14:17:00

Cawapres Penghina Tunanetra

Cawapres Penghina Tunanetra

, 14 NOVEMBER 2018 , 11:49:00

Prabowo Subianto Kunjungi Anwar Ibrahim

Prabowo Subianto Kunjungi Anwar Ibrahim

, 15 NOVEMBER 2018 , 10:58:00