Hanura

Jawa Timur Ora Me-Nyalla

 JUM'AT, 12 JANUARI 2018 , 18:37:00 WIB | OLEH: ZENG WEI JIAN

Jawa Timur Ora Me-Nyalla

La Nyalla/net

LA NYALLA Mattalliti bikin blunder. Dia gelar konferensi pers. Ngemenk "belum apa-apa uda diperes". Dengan high tone, dia bilang, "Emangnya siapa Prabowo?"
Semua manuver ini berakhir pada political incorrectness. Entah siapa konsultan politiknya. Pasti ecek-ecek. Slogan "Jatim Menyalla" sudah bikin merinding. Publik langsung inget Nero Claudius Caesar Germanicus yang membakar Kota Roma dengan nyala api.

Selama beberapa jam, musuh-musuh Partai Gerindra dan Prabowo's Haters pesta pora. Statement La Nyalla di-spin abis-abisan.

Tapi ya, cuma sebentar. Wave of opinions sontak marak. Loyalist 08 keluar semua.

La Nyalla diberi predikat "preman kampung", lelaki labil, penyusup, kader titipan cebong, beringas dan sebagainya. Ada yang ubah namanya menjadi "La Nyalla Maramara".

Sebuah meim dicetak. Captionnya: "Minta Diusung dan Dibayarin PS..? Emangnya dia sehebat Anies Baswedan".

Pastinya, La Nyalla diberi surat tugas. Isinya; mencari mitra koalisi dan menyiapkan kelengkapan pemenangan.

Tanggal 20 Desember 2017, La Nyalla mengembalikan surat tugas. Gagal total. PAN, Demokrat atau partai lain menolak mengusung La Nyalla.

TB Ardi Januar menyebut La Nyalla sebagai "pemburu kekuasaan, tapi gagal menyusun kekuatan".

Gofar Adam bilang, "Mental La Nyalla tidak sekeras mukanya". Penulis Joha berkata, "Nadanya sumbang, bikin telinga pekak".

"Nyanyian La Nyalla nyaringgg kemana-mana. Kecebong senang tak ketulungan," kata Ahmad Lubis.

Jenderal Suryo Prabowo bikin status; "Gimana nggak marah, lha wong dia sudah mbuat dan masang banyak baliho".

Api La Nyalla semakin redup saat Anies Baswedan, Sandiaga Uno, Sudrajat, bahkan Ridwan Kamil merilis komentar tidak pernah dimintai "duit mahar" oleh Gerindra dan Prabowo Subianto.

La Nyalla rusak total setelah Mahfud MD buka suara di twitter. Begini katanya; "Waktu ditawari masuk bursa cagub Jatim...saya juga tak dimintai uang, malah dibilang tak usah memikirkan uang."

Sontak La Nyalla dibanding-bandingkan dengan Feri Juliantoro dan Gus Irawan dari Sumatera Utara. Keduanya enggak berisik ketika batal diusung.

Aktifis Iwan Sumule, sembari posting foto Prabowo 2019, menyatakan "Bertanya dan meminta itu dua hal berbeda. Pa Prabowo tidak meminta. Tapi bertanya. Jika Pa Prabowo bertanya 'apakah anda punya uang untuk bertarung dalam pemilukada?' Tentu itu pertanyaan yang sangat logis."

Syahdan, Pertanyaan soal kesanggupan logistik uang saksi sebesar 40 Miliar dipelintir jadi "aksi palak". Menurut Chusnul Maria, biaya 40 miliar itu ngga cukup. Di Jatim, ada 68.511 TPS. Mestinya butuh 61 miliar rupiah.

Padahal, dana ini bukan untuk kantong Gerindra dan Pa Prabowo. Di sini, political incorrectness-nya. Realita politiknya, seorang Calon Gubernur ngga cukup mengandalkan popularitas dan foto Panglima Kumbang pegang plakat "La Nyalla Jatim 1".

Aktivis Maya Amhar dan penulis Iramawati Oemar malah ketawa ngakak melihat foto itu.

Anggota Dewan Desmond J Mahesa merasa aneh melihat manuver La Nyalla.

Sambil keheranan, Desmond bertanya, "Kalo pembusukan, ini niatnya mau apa. Dia dijadikan alat bargain oleh lawan Pak Prabowo".

Polemik ini mirip general strategy menjatuhkan Mitt Romney. Musuh politik Romney menggoreng statemen Romney dan mengubahnya menjadi slogan "Fire the poor and burn their jobs to heat my mansions!"

Padahal Romney bicara soal healthcare. Bukan masalah ekonomi. Dia sedang mengkritik Obamacare dan menyatakan publik berhak akan pelayanan medis yang baik.

Soal pernyataan "Emangnya siapa Prabowo? Kok maki-maki saya". Jelas, ini pernyataan kader enggak lulus diklat.

Prabowo Subianto adalah Ketua Umum Partai Gerindra. Panglima Tertinggi. The First Patriach. Bapaknya semua kader Gerindra. Seorang Letnan Jenderal TNI. Tegas, sekaligus suka humor, adalah ciri utamanya.

Di Gerindra, enggak ada ruang bagi sikap klemar-klemer dan "cemenitas". Diomelin komandan dan senior ya biasa aja. Evaluasi diri. Kalo salah, akui. Gagal ya terima konsekuensi. Jangan jadi pecundang dan penghianat.

Loyalitas adalah salah satu ciri seorang patriot. Gerindra adalah partainya para patriot. Disloyalty adalah sikap offensive bagi semua partai.

Dalam buku The Philosophy of Loyalty (1908), Josiah Royce menyatakan "Loyalty is indeed a primary virtue. The heart of all the virtues, the central duty amongst all the duties". [***]

Komentar Pembaca
Pecat Anak Buah Surya Paloh!

Pecat Anak Buah Surya Paloh!

, 24 SEPTEMBER 2018 , 19:00:00

Golkar Pecah, Sebagian Dukung Prabowo-Sandi

Golkar Pecah, Sebagian Dukung Prabowo-Sandi

, 24 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

720 Pengacara Bela Rizal Ramli

720 Pengacara Bela Rizal Ramli

, 17 SEPTEMBER 2018 , 17:17:00

Cium Tangan Kiai

Cium Tangan Kiai

, 21 SEPTEMBER 2018 , 22:41:00

Antri Tanda Tangan

Antri Tanda Tangan

, 18 SEPTEMBER 2018 , 03:45:00

Djoko Santoso: Kami Hormati Pilihan Pak Gatot Nurmantyo
Ketika Kiai Ma'ruf Amin Digoyang Penyanyi Dangdut, Warganet Istighfar<i>!</i>
KPK Akan Didemo Tangkap Menteri Enggar

KPK Akan Didemo Tangkap Menteri Enggar

Politik17 September 2018 07:25

Elemen Muda 212 Tolak Keputusan GNPF Ulama Yang Mendukung Prabowo-Sandi
Golkar: Kedok <i>#2019GantiPresiden</i> Sekarang Terbuka
Gatot Nurmantyo Faktor Penentu Kemenangan Pilpres
Hari Tani Nasional Dan Prakarsa Desa

Hari Tani Nasional Dan Prakarsa Desa

Suara Publik25 September 2018 05:46

Prajurit TNI-Polri Tidak Boleh Terbawa Arus Isu Pemilu
Pemuda Tani HKTI Bertekad Lahirkan Santri Tani

Pemuda Tani HKTI Bertekad Lahirkan Santri Tani

Nusantara25 September 2018 05:11

Antara Etika Dan Strategi Politik

Antara Etika Dan Strategi Politik

Suara Publik25 September 2018 04:45