Hanura

Hoaks PKI Kok Makin Merajalela

Mega & Kiai Jadi Korban

 RABU, 14 FEBRUARI 2018 , 10:36:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Hoaks PKI Kok Makin Merajalela

Megawati Soekarnoputri/Net

RMOL. Sepekan terakhir, hoaks PKI makin merajalela di jagat dunia maya seiring peristiwa penyerangan tokoh agama yang bikin heboh. Soal ini, Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri jadi korban karena disebut meminta pemerintah menghilangkan suara adzan. Sementara di Sukabumi, warga heboh karena ada pesan berantai yang berisi daftar nama-nama kiai yang jadi sasaran PKI.
Fitnah terhadap Mega ini bikin Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto angkat suara. Dia minta simpatisan, kader maupun pengurus bisa menahan diri dan menghadapi serangan ini dengan senyum.

Menurut Hasto, berbagai serangan negatif ini harus diubah menjadi energi positif untuk terus melakukan perbaikan. "Ibu Megawati selalu diam menghadapi berbagai serangan tersebut. Namun diamnya Ibu Megawati sebenarnya disertai keprihatinan yang mendalam, bahwa martabat kita sebagai bangsa, mengalami kemunduran," kata Hasto, kemarin.

Omongan Hasto ini terkait munculnya berita hoaks yang tersebar di dunia maya melalui Facebook dan blog-blog yang tak jelas. Salah satu yang bikin Hasto bereaksi adalah berita berjudul "Megawati Minta Pemerintah Tiadakan Adzan Di Masjid, Karna Suaranya Berisik." Tak hanya Mega, politisi PDIP Eva Kusuma Sundari juga jadi korban hoaks. Berita tersebut ditambahin komentar yang menyudutkan bahwa Mega dan Eva adalah PKI.

Ini bukan fitnah yang pertama. Sebelumnya Mega juga pernah mendapatkan fitnah yang sama. Sampai-sampai, Mega mengungkapkan kekesalannya, pada tuduhan tersebut, di sela-sela pengumuman cagub-cawagub di kantor DPP PDIP Lenteng Agung Jakarta Selatan, awal bulan Januari lalu.

Kala itu Mega mengaku kesal dengan isu PKI yang terus menimpa partainya. Ia menduga isu ini berasal dari sejumlah pihak yang tak suka dengan PDIP. "Saya sampai gregetan siapa sih yang mainin ini, PKI melulu. Kalau mau tempur ya ayo, jantan dong jangan cengeng gitu," ucap Mega.

Sementara itu, warga Cisaat, Sukabumi juga dihebohkan oleh hoaks PKI. Sebuah pesan berantai tersebar di masyarakat. Pesan itu berisi nama-nama kiai yang menjadi sasaran kader PKI. Dalam pesan itu, disebut yang mengeluarkan datanya adalah Polsek Cisaat.

Kapolsek Cisaat Kompol Budi Setiana tentu saja kaget bukan main dan membantah. Dia memastikan, kabar tersebut adalah hoaks. "Polsek Cisaat tidak pernah mempublikasikan atau membuat data-data semacam itu, ini meresahkan," kata Budi, saat dikonfirmasi, kemarin.

Sekadar tahu saja, dalam sepekan terakhir peristiwa penyerangan tokoh agama marak terjadi. Terakhir terjadi pada 11 Februari lalu. Bersenjata pedang, pemuda bernama Suliono mendatangi Gereja Santa Lidwina Sleman melukai tiga jemaat, satu pastor dan seorang polisi. Sementara di akhir Januari 2018, seorang ulama pimpinan pesantren di Cicalengka, Bandung menjadi sasaran serangan. Selain itu, ada tokoh Persis di Jawa Barat juga meninggal usai terluka akibat diserang seseorang yang diduga mengalami gangguan jiwa.

Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) ingin agar masyarakat tidak terpancing dengan peristiwa kekerasan yang belakangan terjadi ke para pemuka agama. Pemerintah dan aparat perlu tegas menangani kasus ini. "Kami berharap masyarakat tidak terpancing dengan rangkaian peristiwa kekerasan dan persekusi tersebut diatas," kata Koordinator Badan Pekerja KonraS, Yati Andriyani, dalam keterangan pers, kemarin.

Yati khawatir, peristiwa – peristiwa penyerangan, kekerasan, intimidasi dan persekusi serupa akan terus terjadi sepanjang tahun ini, seiring penyelenggaran pilkada serentak. Karena itu, ia berharap aparat bisa mengungkap tuntas kasus-kasus kekerasan terhadap tokoh agama di atas.

Direktur PoliticaWave Jose Rizal mengatakan jenis berita palsu (hoaks) yang paling banyak beredar di media sosial sepanjang Agustus-Desember 2017 adalah yang terkait isu kebangkitan PKI. Merujuk dari data PoliticaWave, jumlah hoaks yang beredar di media sosial terkait isu kebangkitan PKI mencapai lebih dari 200 ribu atau 95,3 persen. "Isu kebangkitan PKI paling dominan dibanding isu lain," kata Jose.

Jose mengutarakan survei dilakukan lewat pemantauan melalui Facebook, Twitter, Instagram, Youtube, dan beberapa situs serta media sosial lain. Dari hasil survei, selain isu kebangkitan PKI, kabar bohong lain yang beredar di medsos adalah isu pemerintah anti-Islam, isu CEO Traveloka walkout, dan isu tenaga kerja Cina. Jose menjelaskan hoaks umumnya diunggah pertama kali oleh akun anonim. Setelah itu, akun asli mulai ikut menyebarkan konten hoax tersebut yang akhirnya menyebar luas hingga dipercaya masyarakat.

Jose lalu mengatakan bahwa fenomena peredaran hoaks di Indonesia baru terjadi saat Pilkada DKI Jakarta 2012 yang dimenangkan oleh pasangan Jokowi-Ahok. Sebelum itu, hoaks tidak beredar di media sosial di Indonesia atau cenderung sangat sedikit. Atas dasar surveinya itu, Jose lalu bersumsi bahwa politik yang memantik munculnya fenomena peredaran hoaks di media sosial. ***

Komentar Pembaca
Jangan Pilih Pemimpin Munafiqun

Jangan Pilih Pemimpin Munafiqun

, 18 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

Rachmawati: Vivere Pericoloso

Rachmawati: Vivere Pericoloso

, 17 AGUSTUS 2018 , 17:00:00

Atraksi Kembang Api

Atraksi Kembang Api

, 19 AGUSTUS 2018 , 05:36:00

Cakra 19 Untuk Jomin

Cakra 19 Untuk Jomin

, 12 AGUSTUS 2018 , 19:48:00

Pemberian Star Of Soekarno Kepada Prabowo

Pemberian Star Of Soekarno Kepada Prabowo

, 17 AGUSTUS 2018 , 10:48:00