Hanura

Umat Islam Berpolitik: Antara Impian Dan Harapan

 RABU, 14 FEBRUARI 2018 , 15:09:00 WIB

Umat Islam Berpolitik: Antara Impian Dan Harapan
MENJELANG tahun politik 2018 dan 2019, umat Islam di Indonesia dihadapkan pada sebuah situasi yang sulit antara urusan politik dengan agama. Berbagai macam paradigma negatif mulai intens dikembangkan yakni "untuk apa umat Islam berpolitik, mendingan banyak beribadah, berdoa dan berdzikir saja".
Sepintas lalu penggalan kalimat di atas tidak begitu bermasalah, dalam konteks tertentu dapat dimaklumi terkhusus bagi mereka (negara-bangsa) yang hidup dalam suasana tentram, damai dan memiliki pemimpin yang taat pada aturan Allah Swt serta senantiasa berpikir untuk kemaslahatan ummat.

Kalau konteks di atas dibawa ke negara Indonesia, tentu sama halnya dengan sebuah pribahasa "bagai pungguk merindukan bulan". Dikatakan demikian, karena sudah terlalu banyak penelitian dan kajian yang menyatakan bahwa umat Islam khususnya di Indonesia dalam hal tertentu menginginkan pemimpin yang baik dan amanah namun usaha yang dilakukan tak sebanding dengan impian yang diharapkan.

Lalu harus bagaimana menyikapinya, apakah cukup hanya dengan berdoa dan berdzikir kepada Allah Swt bahwa semua impian itu akan serta merta dikabulkan? Tampaknya umat Islam perlu belajar lagi lebih mendalam sejarah kenabian dan para sahabat. Ada begitu banyak kisah Nabi/ Rasul dan para sahabat yang setiap episode perjuangan kehidupannya layak dijadikan qudwah (contoh teladan).

Kendatipun mereka memiliki predikat ke-Nabian namun bukan berarti tak luput dari berbagai macam ujian dan cobaan. Sesekali, cobalah membaca sejarah ke-Nabian dengan cara membumi dan jangan terlalu melangit agar mampu memahami dengan baik setiap penggalan kisah kehidupan dari para Nabi/Rasul dan sahabat.

Disamping hal tersebut di atas, hendaknya umat Islam jangan terlalu puas karena berhasil melakukan aksi damai 411 maupun 212. Substansi umat Islam bukan pada kekuatan massa namun seberapa banyak peran-peran strategis yang bisa dilakukan dalam kekuatan massa itu. Tidakkah umat Islam mau berpikir sejenak, bagaimana caranya agar umat ini tak perlu lagi turun ke jalan melakukan aksi damai? Tentu jawabnya adalah dengan cara mempersiapkan anak, cucu dan saudara-saudara untuk tampil dan mengambil peran dalam posisi yang strategis tersebut.

Tapi bagaimana cara mengambil peran dalam posisi strategis di pemerintahan baik Eksekutif, Legislatif maupun Yudikatif kalau ummat Islam selalu menjauhkan urusan politik dengan agama? Saatnya umat Islam menyadari bahwa ketenangan dalam beribadah dan kenyaman hidup hanya bisa  didapatkan jika memiliki pemimpin yang baik, amanah dan taat kepada Allah Swt.

Cukuplah kisah Nabi Ibrahim As dan Nabi Musa As menjadi pelajaran berharga bagi umat Islam bahwa betapa susahnya beribadah jika memiliki pemimpin yang zalim seperti Raja Namrud dan Fir'aun. Maka tidak ada cara lain agar Nabi Ibrahim dan Nabi Musa mendapatkan ketenangan dalam beribadah kecuali dengan cara menaklukkan pemimpin yang zalim tersebut.

Dan kalau cerita Nabi Ibrahim As serta Nabi Musa As di atas, ditarik dalam konteks tahun politik yang akan dihadapi umat Islam di Indonesia, maka terjemahannya adalah umat Islam harus gesit, giat bekerja keras dan terus berupaya optimal membangun image positif tentang politik dan kekuasaan sebagai sebuah sarana untuk mendapatkan pemimpin terbaik agar negeri ini aman, makmur, sejahtera dan mendapat naungan serta ridho dari Allah Swt. [***]

Dr. Muhammad Abrar Parinduri, MA
Dosen Pascasarjana Sahid-Bogor

Komentar Pembaca
Bawaslu Jangan Nurut Relawan Jokowi

Bawaslu Jangan Nurut Relawan Jokowi

, 16 AGUSTUS 2018 , 15:00:00

Soal Ekonomi, Sandiaga Butuh Rizal Ramli

Soal Ekonomi, Sandiaga Butuh Rizal Ramli

, 16 AGUSTUS 2018 , 13:00:00

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

, 09 AGUSTUS 2018 , 17:24:00

Tegang Saat Prabowo Masuk

Tegang Saat Prabowo Masuk

, 10 AGUSTUS 2018 , 16:40:00

Cakra 19 Untuk Jomin

Cakra 19 Untuk Jomin

, 12 AGUSTUS 2018 , 19:48:00