Hanura

Kharisma Megawati Belum Luntur Seperti Mahathir

 JUM'AT, 11 MEI 2018 , 17:19:00 WIB | LAPORAN: RUSLAN TAMBAK

Kharisma Megawati Belum Luntur Seperti Mahathir

Megawati Soekarnoputri/Net

RMOL. Kemenangan mantan Perdana Menteri Malaysia Mahathir Mohamad (92) atas petahana PM Malaysia Najib Razak menginspirasi elemen-elemen masyarakat di Tanah Air. Ada yang mulai melirik tokoh-tokoh sepuh untuk didorong kembali, seperti Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri (71) dan Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (69).
"Keduanya sama-sama mantan Presiden RI. Bedanya, kalau Pak SBY terhalang konstitusi, Bu Mega tidak. Kalau Mahathir bisa, saya pastikan Bu Mega juga bisa menjadi calon presiden. Apalagi kharisma politik Bu Mega lebih dahsyat," kata Ketua Umum Putra-putri Jawa Kelahiran Sumatera, Sulawesi dan Maluku (Pujakessuma) Nusantara Suhendra Hadi Kuntono dalam keterangannya, Jumat (11/5).

Pasal 7 UUD 1945 menyatakan, 'Presiden dan wakil presiden memegang masa jabatan selama lima tahun, dan sesudahnya dapat dipilih kembali dalam jabatan yang sama, hanya untuk satu kali masa jabatan'.

"Pak SBY yang sudah menjabat dua periode, 2004-2009 dan 2009-2014, tak bisa lagi maju sebagai capres. Sebaliknya, Bu Mega yang baru menjabat satu periode, itu pun meneruskan jabatan Gus Dur, masih bisa maju sebagai capres," jelas Suhendra.

Seperti Mahathir yang setelah tidak menjabat PM Malaysia (1981-2003) konsisten menjadi oposisi dan akhirnya memimpin koalisi Pakatan Harapan, kata Suhendra, demikian pun Megawati yang setelah tidak lagi menjabat Presiden RI juga konsisten sebagai oposisi bersama partainya, bahkan harus "puasa kekuasaan" selama 10 tahun sebelum akhirnya berhasil merebut kembali kursi RI-1 melalui Joko Widodo yang dicalonkannya pada Pilpres 2014.

Hal itu, jelas Suhendra, berbeda dengan tokoh-tokoh sepuh lainnya seperti Amien Rais yang meskipun partainya, Partai Amanat Nasional (PAN), menempatkan kadernya di Kabinet Kerja, namun sikap politiknya di DPR justru kerap berseberangan dengan pemerintahan. "Itu namanya oposisi pura-pura yang bermain dua kaki. Kursi empuknya mau, risiko politiknya enggak mau," lanjutnya.

Konsistensi sikap Megawati itulah, bahkan saat rezim Orde Baru masih berkuasa, yang menurut Suhendra menjadikan putri Proklamator RI Bung Karno itu "laku jual" di panggung politik nasional, bahkan pada Pilpres 2019.

"Bahwa pada Pilpres 2014 Bu Mega memberikan 'sampurnya' kepada Pak Jokowi, itu karena Bu Mega memang tidak ambisi dengan kekuasaan. Yang selalu dipikirkan Bu Mega adalah nasib bangsa. Pada Pilpres 2019, bisa jadi Bu Mega akan kembali memberikan 'sampurnya' kepada Pak Jokowi, dan itu saya rasa karena sikap kenegarawanan beliau demi estafet kepemimpinan nasional supaya ada regenerasi," paparnya.

Terlepas apakah nanti Megawati maju sebagai capres atau tidak, tutur Suhendra, yang jelas pesona dan kharisma politik Megawati belum luntur sebagaimana Mahathir, bahkan lebih dahsyat karena Megawati jauh lebih muda. Meski demikian, menurut Suhendra, lebih baik Megawati kembali menjadi "queen maker" saja sebagaimana pada Pilpres 2014.

"Soal konsistensi sikap politik, sejauh ini Bu Mega belum tertandingi oleh siapa pun, sehingga pesona dan kharisma politiknya tetap memancar sebagaimana Mahathir," demikian Suhendra Hadi Kuntono. [rus]

Komentar Pembaca
Bawaslu Jangan Nurut Relawan Jokowi

Bawaslu Jangan Nurut Relawan Jokowi

, 16 AGUSTUS 2018 , 15:00:00

Soal Ekonomi, Sandiaga Butuh Rizal Ramli

Soal Ekonomi, Sandiaga Butuh Rizal Ramli

, 16 AGUSTUS 2018 , 13:00:00

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

Surat Keterangan PN Sleman Buat Mahfud MD

, 09 AGUSTUS 2018 , 17:24:00

Tegang Saat Prabowo Masuk

Tegang Saat Prabowo Masuk

, 10 AGUSTUS 2018 , 16:40:00

Cakra 19 Untuk Jomin

Cakra 19 Untuk Jomin

, 12 AGUSTUS 2018 , 19:48:00