Hanura

Memahami Secara Jernih Fenomena Islam Nusantara

 SABTU, 14 JULI 2018 , 00:44:00 WIB | OLEH: DR. MUHAMMAD NAJIB

Memahami Secara Jernih Fenomena Islam Nusantara

Foto: Net

AKHIR-AKHIR ini muncul perdebatan bahkan pro-kontra terutama di media sosial tentang gagasan "Islam Nusantara". Sebagian besar baik para pendukung maupun penentangnya tidak melandasinya dengan argumen ilmiah berdasarkan pendekatan disiplin ilmu tertentu, bahkan lebih banyak menggunakan narasi yang saling mengolok-olok. Akibatnya, yang muncul justru perpecahan dan keretakan baru yang semakin memecah-belah ummat.
Jika kita pernah membaca buku berjudul Mukaddimah karya ilmuwan Muslim bernama Ibnu Khaldun yang sangat terkenal dan diakui sebagai pioner dalam ilmu sosial termasuk jadi rujukan para ilmuan sosial Barat. Ibnu Khaldun berpendapat bahwa masyarakat termasuk masyarakat bangsa memiliki sifat dan kecendrungan untuk mengikuti bahkan mengidentifikasikan dirinya dengan bangsa yang unggul atau muncul sebagai pemenang. Hal ini terlihat dari minat bahasa, cara berpakaian, selera makan, musik dan seterusnya.

Pada awal kemunculannya, Islam yang dibawa oleh Bangsa Arab khususnya pada zaman keemasannya di bawah dinasti Umayyah dan Abbasiyah, ummat Islam begitu perkasa sehingga mampu mengalahkan super power Barat Romawi dan super power Timur Parsi atau Persia.

Saat itu ummat Islam unggul di bidang militer, sains dan teknologi, ekonomi, serta sosial dan budaya termasuk di dalamnya berbagai bentuk seni. Karena itu, bangsa-bangsa lain kemudian bukan saja belajar dari dunia Islam, akan tetapi juga mempelajari bahasanya, meniru pakaiannya, bahkan dalam bentuk yang paling jauh mereka mengidentifikasikan diri sebagai bagian dari Dunia Arab.

Apa yang dikenal dengan Dunia Arab saat ini khususnya 22 negara yang tergabung dalam Liga Arab sejatinya adalah bangsa-bangsa yang ter-Arab-kan. Negara Siria/Suriah, Lebanon, Jordania, dan Palestina saat ini, pada saat awal kemunculan Islam disebut Syam yang berada di bawah kekuasaan Romawi. Begitu juga Mesir termasuk Sudan, Libya, Tunisia, Aljazair, dan Maroko yang berada di Afrika Utara. Yang disebut Bangsa Arab saat itu hanyalah Hejaz kini Saudi Arabia, dan Yaman.

Apabila logika yang ditawarkan Ibnu Khaldun di balik, saat suatu bangsa mengalami keterpurukan, maka masyarakatnya termasuk bangsa-bangsa yang mengidentifikasikan dirinya dengan bangsa tersebut akan berusaha menjauh dan melepaskan diri dari identitas atau simbol-simbol yang digunakannya.

Bangsa Arab kini mengalami keterpurukan yang luar biasa. Tertinggal dalam kualitas sumber daya manusianya dan tertinggal dalam penguasaan sain dan teknologi. Akibatnya, mereka lemah dalam politik dan tidak berdaya dalam militer. Lebih dari itu, kini dunia Arab juga dipecah-belah dan diadu-domba.

Dalam kondisi seperti ini tentu menjadi bagian dari Arab akan dikonotasikan sebagai bagian dari keterbelakangan atau ketertinggalan. Itulah sebabnya secara sistematis berbagai bangsa berusaha melepaskan simbol-simbol atau identitas terkait Dunia Arab.

Gerakan melepaskan simbol atau identitas berbau Arab dimulai oleh Kemal Ataturk di Turki dalam bentuk sekularisasi Turki. Gerakan ini kemudian diikuti oleh Mesir dan negara-negara muslim di Afrika Utara baik dalam bentuk gerakkan politik maupun dalam bentuk pemikiran keagamaan.

Kini dunia Arab terpuruk lebih dalam lagi akibat perang saudara yang berlarut-larut. Akibatnya, gerakan pelepasan identitas dan simbol-simbol berbau Arab berkembang semakin meluas sampai ke tanah air.

Apa yang kini berkembang dan dikenal dengan sebutan "Islam Nusantara" pada hakekatnya adalah sebuah gerakkan pemikiran untuk mengambil jarak dengan dunia Arab.

Belajar dari kegagalan yang dilakukan Ataturk di Turki yang hanya meninggalkan simbol Arab kemudian menggantinya dengan simbol Barat,  sementara isi atau substansinya tidak berubah. Sementara Jepang melalui Restorasi Meji sukses karena berorientasi isi atau substansi, sementara tetap mempertahankan simbol-simbol tradisionalnya.

Karena itu, bagi Umat Islam perlu menyadari perlunya memperbaharui diri dengan memfokuskan perhatiannya pada isi atau substansi, bukan pada simbol atau kulit. Hentikan perdebatan yang hanya terkait simbol atau kulit yang hanya menguras energi yang tidak ada manfaatnya. [***]

Penulis adalah Direktur Eksekutif CDCC (Center for Dialogue and Cooperation among Civilization)

Komentar Pembaca
Didampingi Panglima TNI Dan Kapolri

Didampingi Panglima TNI Dan Kapolri

SELASA, 25 SEPTEMBER 2018

Sudah Tepat Rizal Ramli Tidak Ke Kiri Dan Tidak Ke Kanan
Hantu Demokrasi Indonesia Adalah Politik Uang
Lantik 158 Anggota KPU Daerah, Arief Budiman Kembali Ingatkan Tiga Nilai Penting
Wiranto: Pemilu 2019 Memang Lebih Rumit

Wiranto: Pemilu 2019 Memang Lebih Rumit

SELASA, 25 SEPTEMBER 2018

Klarifikasi Ketum GNPF

Klarifikasi Ketum GNPF

SELASA, 25 SEPTEMBER 2018

Pecat Anak Buah Surya Paloh!

Pecat Anak Buah Surya Paloh!

, 24 SEPTEMBER 2018 , 19:00:00

Golkar Pecah, Sebagian Dukung Prabowo-Sandi

Golkar Pecah, Sebagian Dukung Prabowo-Sandi

, 24 SEPTEMBER 2018 , 17:00:00

720 Pengacara Bela Rizal Ramli

720 Pengacara Bela Rizal Ramli

, 17 SEPTEMBER 2018 , 17:17:00

Cium Tangan Kiai

Cium Tangan Kiai

, 21 SEPTEMBER 2018 , 22:41:00

Antri Tanda Tangan

Antri Tanda Tangan

, 18 SEPTEMBER 2018 , 03:45:00

Djoko Santoso: Kami Hormati Pilihan Pak Gatot Nurmantyo
Ketika Kiai Ma'ruf Amin Digoyang Penyanyi Dangdut, Warganet Istighfar<i>!</i>
KPK Akan Didemo Tangkap Menteri Enggar

KPK Akan Didemo Tangkap Menteri Enggar

Politik17 September 2018 07:25

Elemen Muda 212 Tolak Keputusan GNPF Ulama Yang Mendukung Prabowo-Sandi
Golkar: Kedok <i>#2019GantiPresiden</i> Sekarang Terbuka
Gatot Nurmantyo Faktor Penentu Kemenangan Pilpres
Hari Tani Nasional Dan Prakarsa Desa

Hari Tani Nasional Dan Prakarsa Desa

Suara Publik25 September 2018 05:46

Prajurit TNI-Polri Tidak Boleh Terbawa Arus Isu Pemilu
Pemuda Tani HKTI Bertekad Lahirkan Santri Tani

Pemuda Tani HKTI Bertekad Lahirkan Santri Tani

Nusantara25 September 2018 05:11

Antara Etika Dan Strategi Politik

Antara Etika Dan Strategi Politik

Suara Publik25 September 2018 04:45