KBRI Beijing Pertemukan Tartner Bisnis Indonesia-Tiongkok

Kamis, 27 September 2018, 23:51 WIB | Laporan: Ruslan Tambak

Foto/KBRI Beijing

RMOL. Indonesia dan Tiongkok selama ini memiliki potensi investasi dan perdagangan yang sangat besar. Namun potensi ini terkendala oleh berbagai hal, salah satunya adalah informasi yang kurang memadai mengenai peraturan terkait investasi dan perdagangan di masing-masing negara.

Untuk mengatasi kendala-kendala itu, KBRI Beijing bekerjasama dengan Kemenko Maritim, BKPM, Kementerian Pariwisata, Inacham serta sejumlah pihak yaitu Vmate App (Alibaba), CFLD, Kapal Api, Indofood, Papatonk, Mayora, Iflytek, Gezhouba menyelenggarakan Indonesia-China Business Forum on Investment and Trade 2018 dengan tema "Doing Business with Wonderful Indonesia" di Hotel Four Seasons Beijing pada 26 September 2018.

Seperti keterangan yang diterima redaksi KBRI Beijing, Kamis (27/9), forum bertujuan membahas potensi investasi dan perdagangan, juga untuk mempertemukan partner bisnis yang sesuai bidang tersebut agar terjadi kerjasama yang konkrit. Forum bisnis ini diharapkan dapat mempercepat dunia usaha dalam melakukan kerjasama kongkrit di antara kedua negara.

Forum bisnis dihadiri oleh sekitar 200 pebisnis baik dari Indonesia maupun Tiongkok, yang membahas mengenai investasi dan perdagangan di bidang infrastruktur dan pertambangan, ekonomi digital dan kreatif ekonomi, serta produk pertanian dan makanan minuman.

Dalam pidatonya saat membuka forum bisnis, Duta Besar RI untuk Tiongkok, Djauhari Oratmangun menegaskan pentingnya forum ini untuk membahas berbagai peluang investasi dan perdagangan yang dapat mendorong terwujudnya kerjasama kongkrit antara dunia usaha kedua negara.  

Sementara itu, Deputi Bidang Infrastruktur Kemenko Maritim, Ridwan Djamaluddin sebagai keynote speaker menjelaskan mengenai wilayah investasi di Indonesia dan pembangunan 10 Bali baru oleh pemerintah. Kebijakan ini memberikan kesempatan kepada investor untuk juga berkontribusi dalam pembangunan.

Deputi Promosi Penanaman Modal BKPM, Andi Maulana menyampaikan bahwa pemerintah juga memperbaiki sistem birokrasi perijinan untuk mempermudah investor sebagaimana yang dilakukan melalui pengembangan Online Single Submission (OSS).

Dalam sesi digital and creative economy, yang dipandu Liky Sutikno, Ketua Inacham (Indonesian Chamber of Commerce di Tiongkok), forum membahas pengembangan potensi dan kesempatan berbisnis di berbagai bidang dengan melibatkan teknologi IT, seperti yang dilakukan oleh Glexindo untuk mendorong ekspor Indonesia di dunia internasional. Glexindo merupakan marketplace yang mempertemukan B2B2C secara global.

Begitu juga dengan perusahaan asal Tiongkok, Jumore, yang platformnya dapat digunakan oleh pebisnis internasional, khususnya dari Indonesia untuk memasuki pasar Tiongkok.

Berbeda dengan keduanya, Combplus lebih cenderung membangun start up, sehingga start up dapat lebih mengenali dan mempertajam nilai jualnya di dunia usaha. Start up lainnya adalah Cocowork yang mengembangkan sewa ruang kantor bagi pelaku usaha yang membutuhkan ruang kerja yang lebih inovatif dan berbiaya rendah.

Dalam sesi industri makanan dan produk pertanian, hadir importir buah tropis di Tiongkok dari Shanghai Sunshine Group sebagai pengimpor manggis, CAWA, importir sarang burung wallet, dan Atase Perdagangan KBRI Beijing.

Dalam sesi itu, masing-masing pembicara memberikan kunci kesuksesan usaha yang dijalankannya dengan mengimpor buah dan produk dari Indonesia. Meskipun pelaku usaha tersebut telah sukses dengan bidangnya, masih terdapat banyak kesempatan bagi pengusaha lainnya mengingat potensi konsumen Tiongkok yang sangat besar.

Usai kedua sesi tersebut, dilaksanakan penandatanganan rencana kerjasama antara PT Tangshan Jin Hendong Bicycle Parts dengan PT Terang Dunia Internusa senilai 15 juta dolar AS untuk membangun pabrik furniture baja di Indonesia.

Selain itu, ditandatangani pula rencana kerjasama antara Zhengde Waste Technology AG, CRCC Investment Group Limited, dan Indonesia-China Business Council (ICBC) dengan nilai potensi investasi untuk 5 tahun ke depan sebesar 5 miliar dolar AS untuk membangun pabrik energi sampah di Indonesia.

Pembicara dan peserta dari Indonesia juga mendapatkan kesempatan tawaran kerjasama dari para peserta pengusaha asal Tiongkok, seperti antara Glexindo dan Jumore, PT. Consociate Jakarta Corporindo. [rus]

Kolom Komentar


Video

Real Count KPU Lambat!

Kamis, 18 April 2019
Video

KPU: Stop Katakan Kami Curang

Jumat, 19 April 2019
Video

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

Jumat, 19 April 2019
loading