Hanura

Bola Pilpres, Kanibalisasi Politik Teman Seiring

 KAMIS, 06 DESEMBER 2018 , 07:30:00 WIB

Bola Pilpres, Kanibalisasi Politik Teman Seiring

Foto: Net

NYARIS tak masuk akal Perancis bertekuk lutut kepada Senegal di pembukaan Piala Dunia Korsel-Jepang 2002 di Stadion Encheon, Korsel. Perancis kalah 0-1. Padahal sebagai juara bertahan, Perancis diunggulkan. Pasar taruhan sampai berani 4:1.

Mustahaklah kalau pasar taruhan mengunggulkan Les Blues. Skuad besutan pelatih Roger Lemerre itu masih diperkuat bintang-bintangnya seperti Zinedine Zidane, Marcel Desailly, Patrick Viera, David Trezequet.

Lawannya adalah Senegal yang dianggap murid Perancis karena banyak pemainnya yang merumput di negeri mode itu. Pelatihnya Bruno Metsu nyaris tak terkenal.

Les Blues akhirnya gagal lolos babak pertama tanpa sekalipun menang. Terakhir dibekuk Denmark 0-2, setelah sebelumnya bermain imbang lawan Uruguay.

Mengapa tim ayam jantan bola Eropa yang digdaya dan ditakuti lawan ini tiba-tiba berubah menjadi ayam horen yang lembek? Selidik punya selidik ternyata tim yang tidak solid. Hubungan sebagian pemain dengan Lemerre kurang harmonis. Antarpemain juga ada konflik.

Kepercayaan antarpemain, kepercayaan dan penghormatan pemain kepada pelatih sangatlah menentukan bangunan soliditas tim. Belajar dari kasus 2002, pelatih Perancis di Piala Dunia 2018, Didier Deschams tidak memanggil bintang-bintang Perancis seperti Karem Benzema yang merumput di Real Madrid dan Franck Ribery yang main di Bayern Munchen. Dia mencium bau potensi  konflik si tim jika merekrut mereka.
 
Tentu saja Deschamps juga belajar dari kegagalan Les Blues di Piala Dunia 2010 karena konflik keras striker Nicolas Anelka dengan pelatih Raymond Domenech. Sampai-sampai Anelka dipulangkan di tengah turnamen. Namun keputusan Domenech justru memicu ketidaksenangan pemain-pemain lain. Walhasil Perancis harus angkat koper di babak pertama karena kalah 0-2 atas Meksiko dan imbang lawan Uruguay.

Bagi Deschams tim adalah tim. Bukan kumpulan pemain tanpa ikatan. Sebuah bangunan kebersamaan yang utuh. Unifikasi. Semua pemain harus melebur jadi satu kesatuan yang utuh. Manjing, ajur, ajer (masuk, melebur, muncul dalam bentuk baru).  Bukanlah sebuah koalisi dari individu-individu bintang bola. Bukan koalisi dari klub-klub Liga Perancis plus klub di luar Perancis.

Begitu pula prinsip Pelatih MU Jose Mourinho. Sekalipun pemain bintang yang lagi bersinar, tidak boleh menjadi individualis di tim. Tidak boleh ada yang merasa super. Apalagi sampai merendahkan teman satu tim. Buang egoisme.

Untuk itulah Mourinho marah besar kepada Paul Pogba sampai menyebutnya virus.  Hal itu disampaikan di saat pertandingan lawan Southampton di Liga Inggris, pekan ini yang berakhir imbang.

"Kamu tidak bermain. Kamu tidak menghormati para pemain dan suporter, dan kamu membunuh mentalitas dari orang-orang baik dan jujur di sekitarmu," kata Mourinho di kamar ganti pemain.

Soeharto Guru Korupsi


Sikap Mourinho dan Deschamps mestinya bisa menjadi inspirasi Erick Thohir, Manajer Tim Kampanye Nasional Jokowi-Ma’ruf Amin  untuk menjaga soliditas timnya, seperti filosuf Albert Camus yang menemukan eksistensialisme justru dari bola.  Disadari atau tidak, virus-virus yang menggerogoti tim Jokowi-Ma’ruf sudah mulai berjangkit.

Kasus paling aktual adalah pernyataan Wakil Sekjen PDIP Ahmad Basarah yang menyebut Soeharto guru korupsi. Pernyataan ini jelas menohok dan menikam Golkar. Sebab Presiden RI ke-2 Jenderal Besar TNI Soeharto dengan Golkar itu suatu yang tak bisa dipisahkan layaknya laut dengan pantainya. Bagaikan api dengan panasnya. Soeharto adalah simbol kejayaan dan kedigdayaan Golkar. Soeharto adalah Ketua Dewan Pembina Golkar yang berkuasa di RI selama lebih kurang 32 tahun. 

Mungkin maksud Basarah untuk menembak Prabowo dan Partai Berkarya pimpinan Tomy Soeharto. Tembakan ini tidak tepat. Prabowo sudah keluar dari inner circle di akhir kekuasaan Soeharto. Partai Berkarya baru seumur jagung, didirikan ketika Soeharto sudah tidak ada. Untuk apa PDIP menyerang Partai Berkarya? Itu tidak imbang. Sama saja seorang bapak menantang jotosan balita.

Maka muncullah tudingan memang Basarah melakukan pukulan karambol. Seolah menembak Partai Berkarya tapi sebenarnya sasarannya Golkar. Karena suara Golkar mudah dikanibalisasi.

Suara Golkar cenderung tergerus oleh PDIP. Coattail effect Jokowi yang diperoleh PDIP diduga justru dari  suara Golkar. Menurut perhitungan lembaga survei, suara Golkar yang di pemilu 2014 menduduki posisi runner up terancam terjun bebas di peringkat empat di bawah PDIP, Gerindra, PKB.

Itulah praktik kanibalisasi politik. Wajar kalau kemudian tokoh Golkar, Agung Laksono buru-buru minta polemik soal Soeharto guru korupsi disudahi. Nasdem juga segera meminta agar tidak lagi menghujat Soeharto. Semua itu untuk menjaga soliditas koalisi pendukung Jokowi-Ma’ruf Amin.

Kanibalisasi politik dalam pengertian mencaplok konstituen kawan untuk mendapatkan suaranya. Di dunia otomotif misalnya, motornya rusak. Karena tidak ada suku cadang, lantas mengambil bagian sepeda motor lain untuk dipasang meski dengan risiko motor yang dikanibal tidak bisa jalan. Dan sasaran kanibal paling gampang adalah yang paling dekat atau kawan seiring. Bagaikan teori biologi sel. Sel akan memakan sel terdekat untuk menggemukkan badannya. Dan akan terus begitu sampai sel-sel lain habis.

Upaya kanibalisasi sebelumnya dilakukan PSI. Partai besutan Grace Natalie ini melakukan serangan pedas kepada partai-partai lama. Serangan ini jelas bernuansa untuk menggerus kekuatan partai lama yang hidup sejak zaman Orde Baru yaitu PDIP, Golkar dan PPP. Padahal mereka satu koalisi. Tentu saja partai lama meriang bin marah-marah.

Kanibalisasi yang pertama dilakukan PKB atas PPP. Kedua partai ini memiliki basis massa yang relatif sama. Pernyataan Ma’ruf Amin agar umat NU kembali ke PKB sebagai partai yang berdirinya difasilitasi PBNU, ini jelas-jelas, terang benderang menganibal konstituen PPP. Menghadapi proses kanibalisasi ini PPP hanya bingung layaknya tikus tersudut. Karena takut riwayat partainya wassalam alias tamat, sebagian pimpinan PPP kini beralih mendukung Prabowo-Sandi.

Potensi kanibalisasi politik juga terjadi di kubu koalisi Prabowo-Sandi. Adalah Partai Demokrat yang sudah mencium lebih dulu. Dia tidak mendapat coattail Effect Prabowo-Sandi, malah suaranya terseret Gerindra. Di lembaga survei, Gerindra naik posisi dua membayangi PDIP. Untuk itulah Demokrat memilih politik dua kaki. Lebih dulu kaki untuk Pileg baru kemudian rencananya Maret 2019 akan melangkah di Pilpres. Bisa-bisa Pilpresnya dilepas kalau nasib bak telor di ujung tanduk.

Potensi kanibalisasi juga ada pada PAN dan PKS. Ada irisan di mana kontituen kedua partai ini sama. Hanya sejauh ini kanibal-kanibalan belum sampai mencolok. Tapi bukan mustahil, kalau nyawa sudah sampai di tenggorokan, kanibalisasi juga akan keras dan garang.

Keranda Kaca


Kanibilasasi politik merupakan hal yang sangat sulit dihindari pada pilpres 2019. Pangkal masalahnya, Pilpres dan Pileg diselenggarakan serentak. Posisi partai di Pilpres dan Pileg berbeda. Di Pilpres mereka bisa berkoalisi. Koalisi itu ibarat memikul jenazah bersama-sama untuk dibawa ke makam, bukan ke  rumah gadai atau cafe.

Sedang Pileg itu, Tamsil rekan Maksum, wartawan senior Surabaya, seperti tikus-tikus berebut untuk masuk lumbung padi di Senayan. Mereka bergerak sendiri-sendiri. Jangankan antarpartai, sesama anggota partai saja jika dapilnya sama harus saling berebut.

Partai-partai pasti akan mengutamakan kepentingan diri sendiri lebih dulu. Artinya harus memasukkan tikus sebanyak-banyaknya di lumbung Senayan.  Karena ini persoalan hidup mati. Jika tidak mencapai ambang batas parlemen 4 persen, jelas terkubur. Harus bisa mendapat suara sebanyak-banyaknya minimal 20 persen agar tahun 2024 bisa mengajukan capres sendiri. Ibaratnya memiliki mobil sendiri sehingga bisa menawarkan ke penumpang lain gratis atau pakai karcis.

Kontestasi di Pileg ini bisa dipastikan berdampak terhadap iklim koalisi. Bisa jadi koalisi akan seperti kelompok judi kartu. Kelihatan kumpul dalam satu lingkaran, guyon tapi sebenarnya saling bermusuhan. Pasti berusaha saling menyedot  duit lawan judinya dengan cara apapun.
 
Dalam koalisi yang rapuh dan semu, maka tim kampanye itu lantas seperti keranda kaca. Salah-salah kerandanya patah dan jenazahnya terjatuh. Akhirnya, daripada kapiran  jenazahnya budal sendiri ke tujuan akhir. Allahu a’lam bisshwab. Gusti Allah nyuwun ngapura. [***]


Anwar Hudijono

wartawan senior tinggal di Sidoarjo.


 

Komentar Pembaca
Jegal OSO Nyaleg, KPU Bisa Kena Sanksi Etik Dan Pidana
Pemerintah Mau Amputasi KPK?

Pemerintah Mau Amputasi KPK?

, 11 DESEMBER 2018 , 21:00:00

Potensi Korupsi Proyek Infrastruktur

Potensi Korupsi Proyek Infrastruktur

, 11 DESEMBER 2018 , 03:08:00

Award Untuk Raja Dangdut

Award Untuk Raja Dangdut

, 13 DESEMBER 2018 , 00:36:00

Surat Suara Pemilu 2019

Surat Suara Pemilu 2019

, 12 DESEMBER 2018 , 00:32:00