Gerindra: Surplus Beras Tapi Impor Ya Busuk Disimpan Lama-lama

Senin, 18 Februari 2019, 11:55 WIB | Laporan: Adityo Nugroho

KRT Darori Wonodipuro/Net

RMOL. Alasan impor pangan yang dikemukakan Jokowi dalam debat tadi malam, dinilai janggal. Apalagi impor beras dan jagung dilakukan di tengah surplus.

Jokowi menjelaskan, impor penting untuk menjaga ketersediaan stok, stabilitas, harga sebagai cadangan ketika bencana atau gagal panen.

"Ini kita bicara logika, kalau surplus kenapa harus impor? Jokowi bilang buat stok, ya akhirnya berasnya busuk disimpan lama-lama," ujar anggota Komisi IV DPR dari Fraksi Gerindra, KRT Darori Wonodipuro kepada Kantor Berita Politik RMOL, Senin (18/2).
 
Dalam debat tadi malam, petahana memaparkan, pada tahun 2014 Indonesia mengimpor 3,5 juta ton jagung. Namun di tahun 2018, hanya mengimpor 180 ribu ton jagung.

"Itu artinya para petani jagung telah memproduksi 3,3 juta ton sehingga impor menjadi sangat berkurang," terang Jokowi.

Begitu pula untuk impor beras, menurut Jokowi, sejak tahun 2014 hingga saat ini juga mengalami penurunan. Pada tahun 2018 ini produksi beras mencapai 33 juta dan konsumsi 29 juta ton beras per tahun sehingga ada surplus 3 juta ton.

Sementara data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sepanjang tahun 2018, Indonesia mengimpor 737.288 ton jagung.

"Data yang disampaikan oleh anak buahnya ini tidak tepat. Saya curiga ini anak buahnya menyampaikan data yang salah," tengarai Darori.[wid]

Kolom Komentar


Video

Real Count KPU Lambat!

Kamis, 18 April 2019
Video

KPU: Stop Katakan Kami Curang

Jumat, 19 April 2019
Video

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

Jumat, 19 April 2019
loading