Mengenang Perginya Doktor Infotainment Prof DR Agus Muladi

Minggu, 17 Maret 2019, 08:56 WIB | Oleh: Ilham Bintang

Prof. Dr. Agus Muladi Irianto, M.A/Dok

INNALILAHI wa Inna Ilaihi Roji'un. Telah berpulang ke rahmat Allah SWT, Prof. Dr. Agus Muladi Irianto, M.A. (Guru Besar dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Diponegoro periode 2010-2014) pada hari Jumat, 15 Maret 2019, pukul 03.25 di RS. Karyadi Pav. Garuda, Semarang.

Berita duka yang mengejutkan itu muncul pada status Prof AMI, begitu panggilannya, di akun Facebooknya.

Rasanya memang sudah lama akun FB pria ramah, humble dan humoris yang “baru” berusia 56 tahun itu tak aktif.

Sudah lama kami tak jumpa. Komunikasi kami biasanya melalui interaksi di FB itu. Belakangan saya baru tahu rupanya sudah lebih setahun dia menderita sakit.

Nama Prof. Agus Maladi tidak asing di dunia seni. Ia sering tampil menjadi pembicara sebagai budayawan di forum-forum diskusi.

Almarhum memberi kontribusi besar, baik dalam bentuk karya sastra yang dipublikasikan di sejumlah jurnal akademik dan surat kabar, maupun kiprahnya di bidang teater dan film.

Almarhum  pernah tercatat sebagai wartawan “Pos Kota”, “Jakarta Jakarta” dan terakhir di 'koran sore' (kini Harian Wawasan) Wawasan.

Berbagai penghargaan pernah diraih pria kelahiran Wonosobo, 4 Agustus 1962 ini. Antaranya: Satya Lencana Satya 20 Tahun dari Presiden Republik Indonesia (2013), dan Penulis Skenario dan Sutradara Film Pendek dan Dokumenter Terbaik Kementerian Pendidikan Dan Kebudayaan Republik Indonesia (2014).

Almarhum meraih gelar doktor dari Universitas Indonesia, Jakarta, dengan disertasi tentang infotainment (2008). Untuk kebutuhan penyusunan disertasinya, ia melakukan penelitian selama beberapa bulan di kantor tayangan Cek & Ricek, kawasan Meruya Ilir, Jakarta Barat.

Ikut Meliput di Lapangan

Beberapa bulan sebelum itulah saya berkenalan dengan Agus Maladi. Ia datang ke kantor suatu hari pertengahan tahun 2007. Diantar dan diperkenalkan oleh Adi Pamungkas, wartawan Cek&Ricek.

Dia mengutarakan maksudnya untuk menulis disertasi dengan topik tayangan infotainment. Saya menyambut  baik. Semua permintaannya saya sanggupi. Dia minta izin mewancarai semua karyawan di kantor, monggo saya bilang.

Dia juga minta izin mengikuti proses kerja, sejak dari rapat proyeksi, monggo. Agus minta izin diperkenankan masuk ruang editing, wilayah steril di kantor, saya iyakan juga. Agus senang luar biasa. Belakangan, setelah disertasinya, dia cerita bahkan beberapa kali ikut kru terjun ke lapangan menemui dan mewawancarai narasumber. Dasarnya memang wartawan. Kesungguhannya luar biasa.  Karena itu saya mengapresiasi dan sejak awal mendukungnya.

Saya bebaskan apa saja yang dia maui untuk tugas  penelitiannya. Karena sering ikut meliput, sudah tentu Agus sering juga menginap di kantor. Kerja wartawan infotainment lebih banyak malam hari menemui sumber atau meliput acara-acara selebriti.

Judul disertasinya “Kontestasi Kekuasaan Sajian Acara Televisi(Studi tentang program tayangan infotainment)". Saya catat tanggal 10 Desember disertasinya selesai diperiksa oleh pembimbing dan dinyatakan layak untuk diajukan ke ujian disertasi.

Pembimbingnya, Prof Dr Achmad Fedyani Saifuddin sebagai promotor. Sedangkan Dr Iwan Tjitradjaya bertindak sebagai ko promotor. Alhamdulillah tidak sia-sia kerja kerasnya.  Sebulan kemudian dia pun maju sidang pengujian untuk meraih gelar doktornya di Balairung Universitas Indonesia, Depok.

Saya hadir bersama sejumlah undangan waktu itu. Sidang lancar, dia tangkas menjawab pertanyaan para penguji. Hari itu dia dinyatakan lulus dengan predikat cum-laude. Saya memberinya ucapan selamat. Tak lupa hari itu saya memberinya gelar “doktor infotainment". Dia menanggapi dengan senyum lebar.  

Agus memang doktor pertama yang menulis disertasi dengan topik infotainment.

Masa itu infotainment sedang menjadi program primadonna seluruh televisi. Tak heran jika mendapat sorotan beberapa pihak. Kajiannya  secara ilmiah memberi kontribusi berharga bagi masyarakat untuk memahami program televisi yang amat populer masa itu.

Kesimpulan Disertasi


Agus  bukan orang pertama yang melakukan penelitian tentang tayangan maupun tabloid C&R untuk tugas skripsi, tesis, maupun disertasi. Banyak. Alfito Deanova, wartawan SCTV (kini pemimpin redaksi Detik.com) juga menyusun disertasi tentang selebriti untuk meraih gelar masternya.

Ada juga Natalia Wulandari, yang meraih gelar Magister Sains Dalam Ilmu Komunikasi di Universitas Indonesia pada tahun 2001.

Seingat saya, Natalia mahasiswi pertama yang meneliti tabloid C&R. Judul tesisnya pun: “Strategi Komunikasi Pemasaran Tabloid ( Studi Kasus Tabloid Cek&Ricek)".

Setelah menguraikan kajian kontestasi kekuasaan sajian acara televisi di depan sidang, Agus menyimpulkan dua hal.

Pertama, program tayangan infotainment adalah salah satu sajian acara televisi (swasta) di Indonesia yang telah memberi kontribusi pada pembentukan pengetahuan yang ditandai dengan bekerjanya kekuasaan. Melalui  praktik- praktik sosial sejumlah pelaku yang saling berkontestasi.

Kontestasi kekuasaan dalam sajian acara televisi ini, lanjut Agus, dipahami sebagai suatu gambaran adanya bermacam hubungan kekuatan yang saling mendukung, berjuang, bersaing, dan menghancurkan dalam rangka proses pembentukan pengetahuan dan memproduksi wacana.

Yang kedua, isu kekuasaan pada dasarnya telah memberi kontribusi berharga bagi kajian antropologi. Terutama ketika sejumlah pengamat mengatakan bahwa ilmu sosial telah kehilangan lahan pekerjaannya.

Seiring dengan perkembangan kekuatan kekuatan sosial baru yang tumbuh pada dunia modern kontemporer ini. Isu kekuasaan juga telah memberi jalan keluar bagi antropologi untuk merespons isu- isu relevan dengan perkembangan saat ini.

Selain itu isu kekuasaan justru memberi kontribusi berharga bagi antropologi yang selama ini mempunyai konsep jaringan sosial dan kekuatan realitas empiris yang dilakukan melalui penelitian lapangan.

Setelah meraih gelar doktornya, karier Agus di dunia akademis melesat pesat. Dalam waktu relatif singkat ia meraih gelar professornya, dan mengabdikan diri kembali sebagai pengajar di Universitas Diponegoro. Kampus di mana meraih sarjana strata satu dan duanya. Hingga akhir hayat.

Dalam pengantarnya pada sidang promosi doktornya, Agus mengatakan begini. "Saya berhutang budi dan berterima kasih kepada Ilham Bintang beserta seluruh stafnya yang mau menerima, melayani, dan memberi informasi berharga selama berhari-hari ketika saya melakukan penelitian lapangan."  

Lalu dia meminta saya berdiri dan diperkenalkan kepada seluruh hadirin. Saya sampai salah tingkah.

Tiada lagi Agus Maladi, doktor infotainment itu. Saya tak kuasa menahan linangan air mata mengenang dia. Kenangan di masa-masa dia "berkantor" di kantor C&R.

Masih melekat dalam ingatan senyumnya yang selalu mengembang. Beberapa kali dia masuk ruangan kerja saya mendiskusikan banyak hal.

Suatu kali dia serius minta jawaban mengapa saya memberi keleluasaan di kantor hampir tanpa persyaratan apapun. Dia penasaran betul rupanya. Saya jawab begini: "karena saya juga butuh cermin. Butuh mengetahui seperti apa kerja saya di mata masyarakat, dimata karyawan sendiri dan orang lain. Termasuk di mata Anda, kaum akademisi.

Selamat jalan kawan.

Penulis merupakan Wartawan Senior

Kolom Komentar


Video

Real Count KPU Lambat!

Kamis, 18 April 2019
Video

KPU: Stop Katakan Kami Curang

Jumat, 19 April 2019
Video

Demokrat Masih Bersama Prabowo-Sandi

Jumat, 19 April 2019
loading